Akomodasi Penting Bagi Kader Muhammadiyah

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 11 Juni 2016 10:54 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANTUL – Muhammadiyah membutuhkan para kader-kader muda untuk meneruskan estafet persyarikatan. Penyiapan kader-kader ini membutuhkan proses yang panjang dan tidak mudah. Selain itu diperlukan pendataan jumlah kader dan mubaligh Muhammadiyah yang ada di Indonesia.

“Kita memerlukan data terkait berapa jumlah mubaligh dan kader Muhammadiyah di wilayah seluruh Indonesia,” ujar Fathurrahman Kamal selaku Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, dalam pemaparan materi pada Pengajian PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (11/06).

Pemetaan ini, lanjutnya, merupakan amanah Muktamar Muhammadiyah ke-47 agar mengetahui potensi kader dan Mubaligh, serta pembuatan pemetaan dakwah di seluruh Indonesia.

Untuk itu, Fathurrahman berharap agar para kader-kader harus diberi ruang dan difasilitasi untuk mengasah kemampuannya agar nantinya mampu menggantikan generasi saat ini.Namun kenyataannya para pengurus daerah belum mau memberikan ruang kepada para kader.

“Di daerah-daerah masih banyak pimpinan yang belum siap secara psikologis untuk memberi ruang kepada anak muda,” kata Fathurrahman.

Untuk itu, para orang tua harus terbuka terhadap anak muda agar pengkaderan terus berjalan dengan baik. “Metode ini sangat tepat dan paling baik dalam pengkaderan, dengan demikian perlu menghidupkan pengkaderan di berbagai daerah,” ungkap Fathurahman.

Fathurrahman menjelaskan perlunya pengkaderan secara struktur melalui kurikulum agar dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia (SDM) Mubaligh-Muballighat Muhammadiyah ke depan. Adapun materi-materi dalam kurikulum pengkaderan Mubaligh Tabligh yaitu: pelatihan mubaligh, pelatihan kristologi, dan rihlah dakwah.

Fathurahman memaparkan terkait pembentukan Lajnah/Asistensi Tabligh. Asistensi Tabligh ini terdiri dari konsultasi ahli dan tenaga ad-hoc. Konsultasi ahli akan diisi oleh para pakar diberbagai bidang dan tenaga ad-hoc akan diisi oleh kader muda dengan tugas mengeksekusi beberapa kegiatan yang membutuhkan kompetensi spesifik seperti cyber dakwah.

Di akhir sesi pemateri, Fathurrohman memaparkan perlu adanya sinergi antar Majelis di Muhammadiyah. “Gerakan dakwah kedepannya membutuhkan banyak da’i/da’iah, dengan ini diperlukan sinergi antar AUM, PTM, dll” Ujar Fathurrahman. (mona/abey)

 

Kontributor : Nuur Wachid

Shared:
Shared:
1