Literacy Camp Ala Pelajar Muhammadiyah

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 29 Mei 2016 10:35 WIB

Banten, MUHAMMADIYAH.OR.ID-  Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah(PP IPM) merespon cepat fenomena semakin menguatnya gerakan literasi di Indonesiaberbasis komunitas yang akhir akhir santer diperbincangkan. Untuk itulah, PP IPM mengadakan literacycampyang berlangsung tanggal 27-31 Mei 2016 di Rumah Dunia, Serang, Banten.

 

Hal tersebut disampaikan Ketua umum PP IPM, dalam pembukaan literacy camp (27/5). Choirul Huda menyampaikan bahwa, posisi literasi Indonesia menurutnya masih tertinggal dibanding Negara lain danterlihat dari perihal pengadaan penerbitan karya tulis, produktivitas industri penerbitan,serta berbagai kebijakan dunia perbukuan yang belum berpihakpada gerakan baca. Menurut Huda, Gerakan Iqra’ dalam Ikatan Pelajar Muhammadiyah yang pernah dilauncing tahun 2003 diperkuat kembali melalui inisiasi literasi berbentuk komunitas. Perkembangan komunitas literasi di Indonesia beberapa tahun belakangan ini memberi optimisme baru. “Komunitas-komunitas literasi yang tengah berkembang di berbagai tempat di Indonesia menjadi harapan bagi pengembangan dunia literasi. Inovasi-inovasi komunitas literasi juga berkembang secara kreatif. Munculnya komunitas-komunitas literasi yang dihidupkan di berbagai tempat di Indonesia menjadi bukti bahwa gerakan literasi terus berlipatganda,”  jelasnya.

 

Sementara itu menurut Ketua Panitia Literacy Camp PP IPM Fauzan A. Sandiyah, dari data Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI),pada tahun 2015 Indonesia menerbitkan rata-rata 30.000 buku, jumlah ini masih sangat kecil bila dibanding di negara lain seperti di Inggris yang tiap tahun rata-rata menerbitkan buku sebanyak 184.000, atau Amerika yang mencapai 304.912judul setiap tahunnya,” ungkapnya.   Kehadiran komunitas literasi kreatif menurutnya, memiliki tiga hal penting. Pertama, komunitas literasi kreatif merupakan salah-satu proyek penting penguatan kapasitas masyarakat sipil yang selama ini lemah berhadapan dengan tantangan ekonomi-politik. Kedua, komunitas literasi kreatif menunjukkan bahwa mobilisasi massa pasca tahun 1998 masih terjadi di tingkat akar rumput khususnya di bidang literasi. Ketiga, penguatan kapasitas kemanusiaan hanya dapat dilakukan lewat pekerjaan literasi yang serius dan jauh dari tujuan-tujuan pragmatis. Komunitas literasi dalam hal ini merupakan langkah pemberdayaan ummat.

 

“Apresiasi dan dukungan sangat perlu diberikan bagi seluruh inisiator-inisiator literasi. Termasuk di dalamnya adalah memfasilitasi silaturahmi nasional antar tiap komunitas literasi kreatif sehingga mampu memperkuat spirit literasi untuk kalangan yang lebih luas.” Ujar David Efendi yang mewakili Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

 

Menurut David yang juga mantan Ketua PP IPM, IPM juga terlibat dalam pengembangan komunitas literasi. Beberapa komunitas literasi yang dikembangkan oleh aktivis IPM misalnya di Gresik, Banten, Lampung, Yogyakarta, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan beberapa wilayah lainnya. Perkembangan yang menarik dari komunitas-komunitas literasi ini juga menjadi bukti bahwa kehadirannya akan saling memperkuat jaringan kerja literasi di Indonesia. (mac)

 

Shared:
Shared:
1