Pentingnya Penguatan Kapasitas Penanggulangan Bencana Bagi Sekolah di DIY

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 26 Mei 2016 11:58 WIB

Yogyakarta - Paradigma terkait dengan penanggulangan bencana saat ini telah berubah, sebelumnya dikenal dengan respon bencana, namun saat ini telah terjadi perubahan melalui konsep pengurangan resiko bencana. Kampanye terkait pengurangan resiko bencana dirasa penting bagi sekolah-sekolah yang ada di DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta).

Melihat pentingnya penguatan kapasitas penanggulangan bencana bagi sekolah-sekolah di DIY, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah menyelenggarakan kegiatan refleksi bencana gempa bumi di DIY-Jateng tahun 2006 dan kampanye sekolah sebagai basis pemulihan pasca gempa pada Kamis (26/5) bertempat di Muhammadiyah Boarding School (MBS) Prambanan.

Sebagaimana disampaikan oleh Budi Santoso selaku Koordinator Divisi Pengurangan Risiko Bencana MDMC PP Muhammadiyah,  kegiatan ini merupakan sebagai ajang refleksi bagi masyarakat dan juga pemerintah pasca 10 tahun terjadinya gempa DIY-Jateng. “Kami mengajak masyarakat bersama-sama untuk mengevaluasi dan mengambil pembelajaran dari gempa bumi yang telah terjadi di DIY-Jateng pada tahun 2006 lalu, agar kita bersama-sama mengetahui penanggulangan yang tepat ketika terjadi bencana,”ungkapnya.

Kembali ditambahkan oleh Santoso, kegiatan ini juga untuk menyadarkan masyarakat, khususnya bagi guru-guru dan siswa-siswa  di DIY untuk mengetahui dan mau menerapan konsep sekolah aman bencana. “Penting adanya penguatan kapasitas diranah pendidikan terkait penaggulangan bencana , dengan menerapkan sekolah aman, karena ketika bencana terjadi pendidikan merupakan sektor penting yang perlu diselamatkan,”tambahnya.

Sementara itu  Budi Setiawan selaku Ketua MDMC PP Muhammadiyah dalam sambutannya mengungkapkan, bencana dan gempa itu merupakan hal yang berbeda. “Ketika terjadinya gempa namun tidak ada masyarakat yang terluka maupun fasilitas yang rusak maka itu bukan sebuah bencana. Bencana dapat dicegah jika kita tangguh,”ungkapnya.

Kembali ditambahkan oleh Setiawan sepatutnya kita harus memahami fenomena alam dan sosial untuk mengurangi risiko terjadinya bencana. “Melalui refleksi ini menjadi pembelajaran bagi kita semua untuk mengurangi risiko bencana, misalnya dengan tidak membangun bangunan di sembarang lokasi dan juga tidak menggunakan bahan bangunan yang mudah hancur ketika terjadi gempa,”tutupnya.(abey)

 

Kontributor   : Bobby

Redaktur      : Adam Qodar

Shared:
Shared:
1