UHAMKA Gelar Tasyakuran Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional Buya Hamka

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 12 November 2011 19:37 WIB

 

Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) menggelar Tasyakuran Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional kepada Buya Hamka di Auditorium UHAMKA, pada 12 November 2011. Acara tersebut dihadiri sejumlah tokoh nasional, seperti Menteri Kehutanan RI Zulkifli Hasan, wakil menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Musliar Kasim, anggota DPD RI AM Fatwa, mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshidiqi, cendikiawan muslim, Azyumardi Azra, Ketua MUI KH Amidhan, penyair Taufik Ismail, Soelastomo dan ketua umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin serta keluarga besar Buya Hamka yang diwakili oleh anak-anaknya, seperti Aliyah Hamka, Rusdy Hamka, Fatyah Hamka dan Irfan Hamka.
 
 
Rektor UHAMKA, Prof. Dr. H. Suyatno menyatakan UHAMKA sangat bangga dengan dianugerahinya Haji Abdul Malik Karim Amarullah  atau yang lebih dikenal dengan Buya Hamka sebagai Pahlawan Nasional oleh pemerintah Republik Indonesia pada 10 November lalu.
 
 
Dengan pengakuana tersebut, Suyatno berharap kalangan mahasiswa dan sivitas akademika UHAMKA dapat lebih tergugah untuk meneladani kepribadian Buya Hamka. “Bagi UHAMKA, warga Muhammadiyah, warga bangsa, khususnya tokoh-tokoh pemuda yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa, amat perlu meneladani kearifan Buya Hamka,”ujarnya.
 
 
Ulama dan Pejuang
Ketua umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Din Syamsuddin menegaskan bahwa Buya Hamka merupakan seorang Pahlawan Sejati bagi bangsa ini. Sebab selain dikenal sebagai seorang ulama yang memiliki integritas, sastrawan dan budayawan dengan beragam karya sastra, Buya Hamka juga seorang pejuang dalam perang kemerdekaan.
 
 
 “Keluarga besar Muhammadiyah sangat bersyukur, bahagia dan berbangga akhirnya pemerintah mengakui dan memberikan anugerah Pahlawan Nasional pada seorang tokoh Muhammadiyah, Prof. Dr. Hamka. tak pelak lagi Buya Hamka adalah Pahlawan Sejati. Bukan hanya karena keulamaanya pendiri ketua pertama MUI, keilmuan dengan gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al Azhar, Mesir, juga karya-karya dalam bidang sastra tetapi juga karena kepejuangannya dalam perang kemerdekaan RI,”ujarnya.
 
 
Menurut Din Syamsuddin, sebagai ulama Buya Hamka berada dalam posisi tengahan, memadukan ketegaran dalam memegang prinsip. Seperti ketika menjadi ketua umum MUI dengan Fatwa Natal, dimana dia  rela mundur dari jabatan ketua umum MUI, demi prinsip yang dianutnya.
Dalam hal lain, beliau seorang ulama yang sangat fleksibel dan  toleran. Sehingga ceramah-ceranahnya selain disukai oleh umat Islam juga oleh kalangan non muslim. Dan bahkan terhadap musuh politiknya, ia memaafkan.
 
 
“Ini sebuah sikap kenegarawanan, kearifan dan kebijaksanaan yang tetap berpegang pada prinsip keagamaan. Bagi saya ini sebuah watak kepemimpinan yang langka saat ini ketika bangsa ini merindukan pemimpin yang berwatak. Dan bukan pemimpin yang lembek, lemah. Kita harus meneladani Buya Hamka,”ujarnya.
 
 
Din Syamsuddin berharap anugerah gelar Pahlawan Nasional bagi Buya Hamka bisa memacu dan memicu generasi penerus tidak hanya di Muhammadiyah, umat Islam, tetapi juga masyarakat Indonesia untuk tampil sebagai Hamka-Hamka baru dalam konteks zaman yang berbeda.
Din Syamsuddin juga berharap agar  UHAMKA bisa menampilkan, mendalami dan menyampaikan nilai-nilai HAMKA untuk menjadi teladan bagi keluarga besar Muhammadiyah.
 
 
“Saya pikir bangsa kita harus menyebarluaskan keteladanan dari para pahlawan. Karena nilai-nilai keutamaan seperti itu akan sangat membantu dalam membentuk dan menanamkan karakter bangsa. Saya tahu bangsa-bangsa besar di dunia yang sudah mempunyai masa lampau yang jaya sangat berpegang teguh pada pikiran-pikiran para  bdayawan dan pemikir masa lampau sehingga menjadi nilai-nilai bangsa. Saya kira konsekuensi dari penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Buya Hamka harus ditindaklanjuti oleh negara,”ujar Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Sedangkan cendikiawan muslim, Prof. Dr. Azyumardi Azra menegaskan Buya Hamka selain seorang ulama juga tokoh perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Jejak perjuangannya terlihat aktif terlibat dalam Sarekat Islam (SI) di Padangpanjang tahun 1925. Buya Hamka melihat SI sebagai kekuatan sosial (keagamaan) Islam yang tangguh menghadapi kolonialisme Belanda. Selain aktif di SI ia juga aktif berjuang melawan Belanda saat menjabat konsul Muhammadiyah di Makasar dan Medan tahun 1936.
 
 
Di dalam buku otobiografinya yang berjudul Kenang-Kenangan Hidup (jilid 4), Buya Hamka menceritakan kiprahnya dalam bergerilya di hutan sekitar Medan dan Sumatra Barat. Ia menjadi penghubung krusial di antara kaum ulama dengan kelompok-kelompok pejuang lainnya. Kiprah Buya Hamka dalam perjuangan nasional sepanjang 1945-1949, lanjut Azyumardi kian meningkat berbarengan dengan terjadinya perang revolusi menentang kembalinya Belanda ke tanah air. Tahun 1947, Buya Hamka diangkat menjadi Ketua Barisan Pertahanan Nasional bersama Rasuna Said. Selain itu, ia juga diangkat oleh Bung Hatta sebagai Sekretaris Front Pertahanan Nasional.
 
 
Keaktifan Buya Hamka dalam perjuangan kemerdekaan dilanjutkan dengan membentuk Badan Pembela Negara dan Kota  (BPNK) yang nerupakan barisan perlawanan gerilya terbesar di wilayah Sumatera Barat. Selain Din Syamsuddin dan Azyumardi Azra, sejumlah tokoh nasional memberikan kesan terhadap pribadi Buya Hamka. AM Fatwa, Zulkifli Hasan dan Musliar Kasim mengaku sangat terinspirasi oleh kiprah dan buku-buku karya Buya Hamka. 
Shared:
Shared:
1