Kejahatan Seksual Dinilai Terjadi Akibat Budaya Permisif

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 13 Mei 2016 14:55 WIB

JAKARTA -- Kasus kejahatan seksual di Indonesia kini semakin bermunculan terungkap. Tak terkecuali di Kabupaten Bogor, di Kecamatan Cibungbulang, seorang balita dikabarkan dibunuh setelah diperkosa oleh pelaku orang dewasa yang juga tetangganya.

"Ini perbuatan keji," ujar Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Bogor Naufal Ramadian saat dihubungi Muhammadiyah.or.id, Jumat (13/5). Kejahatan seksual ini, Naufal mengatakan, dilakukan orang dewasa akibat adanya budaya permisif.

"Siapapun sulit untuk menebak pelaku akan melakukan hal sekeji itu," terang dia. Naufal menuturkan, akses pornografi yang tanpa batas sangat berdampak pada penggunanya. Apalagi, tambah dia, pornografi akan semakin merusak tatanan sosial jika diakses oleh orang yang tidak mampu mengontrol diri. 

Naufal menyarankan, masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Karena, menurut dia, secara sosial, masyarakat Indonesia saat ini sedang sakit. 

"Remaja gagal menemukan jati diri," tegasnya. Kemudian, Naufal pun mendorong, agar para remaja proaktif mengambil inisiatif untuk memanfaatkan diri di lingkungan sosial yang positif. Yaitu produktif semisal terlibat dalam wadah organisasi, contohnya Ikatan pelajar Muhammadiyah (IPM), maupun lainnya.

Di sisi lain, Naufal menuturkan, orang tua harus mampu mengarahkan dan meminimalisir waktu kosong yang rawan digunakan kegiatan madharat oleh anak-anaknya.

Dikabarkan, di Kampung Pabuaran Tonggoh, RT 03 RW 05, Desa Girimulya, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, balita LN berusia 2,5 tahun dibunuh oleh BD, 26 tahun, setelah diperkosa olehnya.

Kini, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo pun telah menyatakan, Indonesia darurat kejahatan seksual. (Reporter: Ilma Aghniatunnisa/ Redaktur: Ridlo Abdillah)

Shared:
Shared:
1