Muhammadiyah: Masyarakat Jangan Terjebak Calon Presiden Hasil Poling

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 11 November 2011 17:00 WIB

 

Yogyakarta-Dari berbagai survei yang ada dan yang disuguhkan oleh media hampir tidak ada yang menampilka figur alternatif seperti tokoh muda.  Seolah ada keberpihakan dari lembaga survei yang di publish media kepada politisi tua untuk tetap memimpin.

 

Demikian disampaikan Bachtiar Dwi Kurniawan sekretaris Lembaga Hikmah dan kebijakan publik (LHKP) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY dalam diskusi terbatas Ahmad Dahlan Corner di Gedung PP Muhammadiyah, Jl Ahmad Dahlan No.103, Yogyakarta, Jum’at (11/11/2011). “Masyarakat seolah hanya digiring untuk memimilh pemimpin yang dalam hal ini masuk dalam kategori 4 L, Lo lagi Lo lagi, Ini memunculkan keprihatinan tersendiri mengingat, figur-figur tua-senior yang muncul sudah terbukti tidak banyak merubah keadaan,” jelasnya. Walaupun begitu, pada sisi lain Bachtiar juga merasa prihatin dengan para politisi muda yang performanya juga identik dengan tindak korupsi, “Untuk berpaling ke generasi muda, akhir-akhir ini performance politisi muda agak kurang baik dilihat dari berbagai skandal yang melibatkan politisi muda seperti Nazaruddin, Anas Urbaningrum, Al Amin nasution dan yang lainnya,” tegasnya.

 

Menurut Bachtiar, citra politisi muda tidak luput dari citra yang suram sehingga Citra politisi tua dan muda ternyata sama saja. Prospek politisi muda dalam hal ini bisa dibilang suram. Terlepas dari citra buruk politisi muda saat ini menurutnya, realitas politik tanah air tidak cukup memberikan ruang yang berarti kepada generasi muda untuk tampil. “Partai politik masih di dominasi generasi tua, sehingga memungkinkan tradisi urut kacang,” tambahnya.

 

Untuk itu kedepan ungkap alumnus pascasarjana UGM ini, seharusnya perlu dimunculkan lagi figur-figur alternatif yang bebas dari citra korupsi sekaligus dapat mengambil langkah tegas dan konkrit dalam memimpin bangsa Indonesia. “Salah satu problem terbesar bangsa indonesia saat ini adalah lemahnya kepemimpinan. Saat ini dan kedepan bangsa kita membutuhkan kepemimpinan yang kuat, kuat bukan berarti otoriter dan anti demokrasi, kuat dalam arti tegas dan berani mengambil resiko mengambil keputusan walaupun tidak popular,” pungkasnya.

Shared:
Shared:
1