Kehebatan Sebuah Negara Dilihat dari Petaninya

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 16 Oktober 2011 21:19 WIB

Malang- Presiden Indonesian Islamic Bussiness Forum (IIBF), Ir. Heppy Trenggono, M.Kom, menyayangkan nasib petani Indonesia yang miris di tengah-tengah kekayaan alam yang melimpah. Lebih miris lagi, ini bukan karena petani yang salah, melainkan kebijakan impor hasil pertanian yang tak bisa dibendung. Akibatnya, petani harus bersaing dengan produk-produk negara lain.

Hal itu disampaikan Heppy di hadapan 450 peserta Kuliah Umum, 300 di antaranya mahasiswa Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (15/10). Heppy diundang Himpunan Mahasiswa Agribisnis untuk menyampaikan tema meraih kemenangan dalamperang bisnis.

Lebih lanjut, pengusaha di berbagai bidang termasuk kelapa sawit, itu mendorong agar kaum muda bergerak dengan jiwa enterpreneurship. Menurutnya, ada tiga spirit terbesar yang hilang saat ini, yakni kepemimpinan (leaderships), kewirausahaan (enterpreneurship) dan spiritualitas. Soalenterpreneur adalah soal playing rich, menjadi kaya. “Siapapun, tidak hanya pengusaha, bahkan termasukpemimpin negara harus memiliki jiwa enterpreneurship untuk memecahkan berbagai persoalan,” tegasnya. 

Heppy menyontohkan, ketika sayur dan buah-buahan impor menyerang dan melumpuhkan petani Indonesia, kita tidak bisa menyalahkan sistem pasar bebas yang sudah disepakati. 

“Yang diperlukan adalah nalar berfikir enterpreneurship menjadi sebuah kebijakan. Bahwa barang asing boleh masuk, tetapi harus kita atur. Misalnya masuknya melalui pelabuhan di Papua, sehingga warga di sana ikut merasakan pemerataan, sedangkan harga distribusi ke Jawa dan sekitarnya tetap tinggi bersaing dengan petani lokal,” katanya.Di sisi lain, kata Heppy, negara harus mengatur strategi agar pengusaha-pengusaha besar tidak menjadi mesin pembunuh bagi pengusaha kecil. Sedangkan di pihak masyarakat harus digerakkan untuk menggunakan produk-produk dalam negeri.

Heppy mengutip data AC Nielson bahwa Indonesia adalah negara paling konsumtif kedua di dunia. Ini berarti Indonesia merupakan pasar empuk bagi semua produk dari seluruh dunia. Jika tidak dikelola, maka potensi itu hanya menjadi makanan orang asing, padahal masyarakat produksi kita masih sangat minim.

Itulah sebabnya, Heppy mengajak agar masyarakat memulai sebuah gerakan apa yang disebut sebagai “Beli Indonesia”, yakni membeliproduk Indonesia, membela bangsa Indonesia dan menghidupkan semangat persaudaraan. Gerakan ini pun dideklarasikan bersama-sama peserta kuliah umum.

Kepada mahasiswa FPP Heppy berpesan agar tidak malu menjadi petani. Di negara-negara maju petani bisa sangat makmur karena disubsidi pemerintah. Sebab, untuk urusan kebutuhan  hidup, negara tidak berani ambil risiko seandainya petani tidak mau menanam akibat jatuhnya harga. “Ini merupakan kebijakan yang enterpreneuship karena menganggap petani adalah orang yang wajib dibela dan harus kaya sehingga akan banyak petani,” kata Heppi. 

“Kehebatan sebuah negara, bisa dilihat darikemakmuran petaninya. Jika petani-petani di negara itu kaya-kaya, maka negara itu bisa dikatakan memiliki perhatian pada aspek-aspek lainnya,” pungkas Heppy.

Pembantu Dekan III FPP, M.Sobri, mengatakan kuliah tamu ini penting untuk memberi spirit pada mahasiswa agar lebih peka terhadap dunia enterpreneurship. Dalam dunia pertanian dan peternakan, jiwa enterpreneurship sangat diperlukan untuk melawan bisnis-bisnis raksasa yang mengalir ke Indonesia.

Shared:
Shared:
1