Minat Baca dan Tulis Masyarakat Indonesia Masih Sangat Kurang

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 03 Desember 2015 12:03 WIB

Bantul - Populasi Masyarakat Indonesia selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya. Bahkan saat ini, populasi masyarakat Indonesia berada pada jumlah 250 juta jiwa penduduk. Jika ditunjang dengan sumber daya yang berkualitas dan dengan latar belakang pendidikan yang baik, hal tersebut akan berimbas baik pula pada peningkatan perekonomian Indonesia kelak. Namun yang menjadi masalah rakyat Indonesia saat ini adalah minat baca dan tulis masyarakat Indonesia yang masih sangat kurang.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Direktur Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Indonesia, Prof. Dr. Ali Ghufron Mukti,M.Sc.,Ph.D., dalam Konferensi Internasional yang diadakan oleh Program Studi Magister Keperawatan UMY di Ruang Sidang gedung Pascasarjana pada Rabu (2/12).

Ali mengatakan, “Kebiasaan masyarakat Indonesia lebih pada kebiasaan dengar dan bercakap-cakap. Sedangkan kebiasaan baca tulis sangat kurang.” Ia juga menambahkan bahwa sudah selayaknya Indonesia mencontoh masyarakat luar negeri seperti Jepang dan Singapore yang telah menanamkan minat baca dan tulis sejak sangat dini.

Penumbuhan minat baca dan tulis amat sangat penting untuk menunjang Sumber Daya Manusia Indonesia yang berkualitas. Hal ini juga terkait dengan tema yang diusung didalam konferensi tersebut yakni “Inovasi Pendidikan Keperawatan”.

Ali menyampaikan bahwa ia sangat menyayangkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para dosen maupun mahasiswa hanya berbentuk tulisan dan kemudian tersimpan di dalam perpustakaan saja. “Oleh karenanya, saat ini kita ingin memulai inovasi dengan cara mewujudkan hasil penelitian dalam bidang industri. Namun yang masih menjadi kendala, biasanya pihak pelaku perindustrian lebih mementingkan profit tinggi,” jelasnya.

Dia  juga menuturkan bahwa saat ini Kemenristek Dikti memiliki target untuk menekan tingkat pendidikan masyarakat. Dari yang semula berpendidikan Sarjana, akan berusaha ditingkatkan untuk dapat mengambil program Master dan begitu seterusnya. Hal ini dengan tujuan untuk dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas Sumber Daya Manusia di Indonesia. “Permasalahan yang ada di Indonesia saat ini adalah terkait banyaknya pengangguran dan kualitas pendidikan tinggi nasional yang jauh dari standar. Pengangguran sendiri disebabkan oleh kualitas SDM yang buruk,” tambah Mantan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada ini.

Sehingga untuk menuntaskan permasalahan yang tengah dihadapi oleh Indonesia saat ini, maka kunci yang terpenting adalah pendidikan masyarakatnya. Ia menuturkan jika pendidikan baik, maka SDM yang dihasilkan juga akan baik.

Pendidikan yang baik juga harus ditunjang dengan penelitian-penelitian dan hasil dari penelitian tersebut dipublikasikan ke masyarakat luas bahkan pada taraf internasional. Jumlah publikasi yang dihasilkan oleh peneliti, mahasiswa ataupun dosen bisa dibilang jumlahnya banyak. Namun kebanyakan dari publikasi tersebut masih berbahasa Indonesia. “Publikasi dengan bahasa Inggris masih sangat minim. Ini juga dikarenakan pendidikan bahasa Inggris masyarakat Indonesia dan pembelajaran baca dan tulis yang masih kurang,” ulas Wakil Ketua Majelis Dikti PP Muhammadiyah ini.

Prof. Ali menyebutkan hal-hal yang harus dipenuhi oleh masyarakat Indonesia untuk berkemajuan dalam bidang pendidikan. Hal tersebut antara lain, dosen atau guru harus tersertifikasi, sehingga kualitas pendidik juga terjamin. Pendidikan juga harus senantiasa mengajarkan teknologi-teknologi terbaru kepada para murid-muridnya. Sehingga generasi muda Indonesia tidak terlambat dalam mengetahui inovasi teknologi yang tengah berkembang di dunia. Selain itu, faktor bahasa dan kegagapan akan budaya yang juga harus diperbaiki. Dalam hal ini Prof. Ali menekankan kepada para mahasiswa Magister Ilmu Keperawatan untuk dapat meningkatkan aspek-aspek yang ia sebutkan. “Terutama dalam hal bahasa dan budaya. Jika perawat akan ditugaskan di negara seperti Jepang, maka ia harus dapat menguasai bahasa tersebut dan belajar budaya negara tersebut sebelum penugasan. Hal ini akan menunjukkan kualitas pendidikan keperawatan yang baik di Indonesia,” tutupnya. (Deansa) (dzar)

Shared:
Shared:
1