Muhammadiyah Harus Berfikir ke Arah yang Lebih Besar

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 20 November 2015 16:01 WIB

Bantul– Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 1998-2000 (menggantikan Amien Rais) dan 2000 – 2005, Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, MA, mengutip ayat Al Quran Surat Al Hajj ayat 41, bahwa orang-orang yang apabila kami teguhkan kedudukan mereka dimuka bumi niscaya mereka tegakkan sholat, membayar zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang munkar, dan kepada Allah-lah kembali segala urusan’.

Dalam testimoninya pada acara resepsi Milad Muhammadiyah ke 106 di Sportorium UMY, Rabu malam (18/11). Buya Maarif mengatakan, berharap Muhammadiyah berfikir ke arah yang besar  untuk abad ke-2, jika tidak bangsa ini semakin tersungkur.

Buya berharap kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Pimpinan Daerah, Pimpinan Wilayah turut memikirkan Indonesia secara sungguh-sungguh, kalau tidak kita akan tenggelam dalam kemungkaran kata dia.

 

Dalam kesempatan yang sama Prof. Dr. Amien Rais, MA, dalam testimoninya mengatakan, memimpin Muhammadiyah amat sangat membanggakan, membuat menambah gairah hidup dalam ber-Muhammadiyah. “Saya pernah menjadi Ketua Umum PAN, Ketua MPR dan lain-lain, tapi menjadi Ketua Umum Muhammadiyah adalah membangkitkan gairah dan semangat hidup,” ungkap mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 1993-1995 (menggantikan KH Azhar Basyir yg wafat 1993) dan 1995 – 1998 (digantikan Buya Syafii Maarif, karena menjadi Ketua Umum PAN kala itu).

 

Mantan Ketua Umum PP ‘Aisyiyah periode 2000 – 2010, Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno, juga memberikan testimoni, dia mengatakan Lahirnya muhammadiyah 1912 Indonesia pada waktu itu masih gelap untuk memberikan partisipasi kepada perempuan. KH.Ahmad Dahlan pada waktu itu sudah perfikir, bergerak , aktif, semua orang terdekat dan jauh digerakkan dengan ayat yang menyebutkan bahwa bermasyarakan membawakan Islam berkemajuan  rahmatan lil ‘alamin tidak hanya untuk laki-laki saja, akan tetapi perempuan juga, hal ini dapat dilihat dari adanya kesempatan bersekolah bagi perempuan, tidak hanya laki-laki.

“‘Aisyiyah dikatakan lahir 1917, hakikatnya ‘Aisyiyah  itu sudah sejak tahun 1912, satu hal yang perlu dipikirkan menjadi salah satu pilar sehingga dapat lebih kokoh lagi.”, ujarnya.

Hal yang kedua, menurut Guru Besar Ilmu Filologi UGM ini dia mengamati selaku pimpinan Aisyiyah. “saya masuk di Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah 1968 sebagai bendahara hingga berakhirnya periode yang baru lalu,  apa yang saya alami bahwa kerja di ‘Aisyiyah  baik sebagai anggota dan sebagai amal usaha , sebagai pimpinan, memiliki kenikmatan yang luar biasa, sesuatu yang kita harapkan, saya ingat hadis nabi : addunya mazro’atul akhiroh  ‘’ semua yang dimuhammadiyah baik laki-laki maupun perempuan sehingga para pelajarnya menghasilkan juara nasional dan internasional”, tutupnya. (dzar)

 

 

Shared:
Shared:
1