Kerasan, Mahasiswa Asing Ingin Lebih Lama Lagi di UMM

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Rabu, 12 Oktober 2011 16:39 WIB

 

Malang-Masih ingat Hanna Szymanszka, mahasiswa asal Polandia yang studi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)? Jika sedikit lupa, simaklah kisah tentang gadis manis yang mengaku telah menjadi “Jawa” itu di website ini edisi 11 Januari 2011.

Tahun ini UMM kembali menerima seorang warga Polandia. Dia bernama Dawid Spzakiewicz. Mirip dengan Hanna, Dawid (baca=David), langsung kerasan sejak menginjakkan kakinya di kampus UMM.

Dawid merupakan peserta beasiswa program Internship Indonesia yang diperbantukan menjadi dosen magang di UMM. Dia mengajar Bahasa Inggris di Jurusan Bahasa Inggris FKIP selama satu semester. Lulusan jurusan kepariwisataan Wyższa Szkoła Teologiczno-Humanistyczna, Polandia  ini mengajar kelas speaking untuk mahasiswa tahun pertama.  

“Saya dipercaya untuk ngampu 18 sks yang tersebar di sembilan kelas.Ini adalah kesempatan bagus yang saya punya untuk mengembangangkan skill mengajar saya dan skill bahasa inggris mahasiswa pada khususnya,” ujar pria yang mengaku gemar bermain basket itu.

Menurutnya, mempelajari bahasa Inggris tidaklah sesulit yang dibayangkan kebanyakan orang. Kita bisa memperdalam pengetahuan dengan sering melihat film dan mendengarkan musik berbahasa Inggris. Selain itu keberanian untuk berkomunikasi dengan bahasa Inggris harus dilatih perlahan-lahan, terlebih berkomunikasi dengan orang asing. Dengan sendirinya kemampuan tersebut akan terus berkembang.

Kisah Dawid ke UMM bermula dari keinginannya kembali ke Indonesia. Sebelumnya, pada 2009 Dawid juga pernah ke Malang, namun sebagai turis. Pada tahun 2010 dia juga sempat mengajar di SMA 2. Ketika mengikuti seleksi Internship Indonesia atas biaya Uni Eropa, Dawid memilih UMM atas rekomendasi teman senegaranya, Martin yang pernah terlebih dahulu mengenal UMM.  

 “Tidak salah saya berada disini.Di Polandia, kampus saya hanya memiliki 300 mahasiswa. Pertama kali datang disini saya cukup tercengang melihat jumlah mahasiswanya, begitupun dengan gedung kampus yang sangat eksotik. Danau dan pepohonan yang rimbun membuatku selalu betah di sini,”kesannya.

Dawidmengaku sebagai voluntir di bidang pendidikanyang memilikimisi untuk membantu meningkatkan kemampuan bahasa Inggris mahasiswa. Sebagai seorang voluntir, tentu dia harus membiayai semua keperluanya di Indonesia, mulai dari tiket pesawat, bahkan biaya hidup.

Dia mengaku sangat senang bisa berada di Indonesia, selain mempunyai ragam budaya yang kaya, Indonesia juga memiliki alam yang menakjubkan. Kesan pertama saat datang di Indonesia begitu baik, khususnya di UMM. Dawid mengaku mendapatkan sambutan yang sangat ramah dan memperoleh pelayanan yang sangat baik.

“UMM mengapresiasi kedatangan saya.Saya disediakan tempat tinggal dikawasan Puncak Tidar, disana saya tinggal bersama mahasiwa dari Australia dan Amerika. Selain itu, seorang teman dari Indonesia rela meminjamkan motornya untuk menunjang kegiatansayadi UMM,” ujar pria yang mengaku menyukai ikan bakar di Malang.

Image UMM sebagai kampus Islami tidak menjadi problem baginya. Menurutnya kampus ini sangat terbuka untuk urusan akademik. Ia mengaku tidak pernah mendapatkan kendala sedikitpun selama di UMM, terutama masalah agama.

Bahkan, saking cintanya kepada UMM,Dawid berencana untuk memperpanjang masa magangnya setelah berkunjung ke tempat kakak dan ibunya di Australia dan Inggris di bulan Desember nanti.

“Kalau bisa, saya ingin tinggal lebih lama lagi di Indonesia. Masih banyak hal di Indonesia yang ingin saya pelajari,” pungkasnya. (www.umm.ac.id)

Shared:
Shared:
1