59 Mahasiswa Megister Keperawatan UMY Siap Terjun Langsung ke 4 Negara

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 08 Oktober 2015 10:50 WIB

Yogyakarta- Student Exchange bagi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mungkin bukan suatau hal yang baru. Namun, hal ini menjadi sebuah pengalaman baru bagi mahasiswa Megister Keperawatan yang juga akan melakukan student exchange. Jika sebelumnya student exchange hanya dilakukan di satu negara saja, namun kali ini student exchange akan dilakukan di empat negara antara lain Cina, Taiwan, Thailand, dan Filipina. “Ini menjadi sebuah pengalaman  yang baru bagi 59 mahasiswa yang akan berangkat besok lusa. Untuk itu sebelum keberangkatan, mereka sudah dibekali beberapa pembekalan, antara lain pembekalan materi dan pembekalan bahasa asing yaitu Inggris dan Cina. Selain itu mereka juga diberi pembekalan tentang kebudayaan yang ada di masing-masing negara yang akan ditempatinya selama 1 bulan lamanya, “ jelas Yuni Permatasari Istanti, M.Kep., Sp.Kep.MB.,CWCS selaku Kepala Prodi Megister Keperawatan UMY saat memberikan sambutannya dalam acara “Pelepasan Blok 5 International Experience 05 Nursing Education and Medical Surgical Nursing Practice” pada hari Senin (5/10) di Ruang Amphiteater Gedung Pasca Sarjana Lt.4 UMY.

 

Yuni menjelaskan ke 59 mahasiswa ini akan diberangkatkan ke 9 tempat di 4 negara tersebut, antara lain Guangxi Medical University China, Guangxi Medical University Hospital China, Central Taiwan University of Science and Technology, Changhua Christian Hospital Taiwan, Ifugo State University Philippines, Ubon Rachathani University Thailand, Khon Kaen University Thailand, Khon Kaen Hospital Thailand, dan Srinagarind Hospital Thailand. "Dari kesembilan tempat tersebut akan dibagi menjadi dua jurusan yang berbeda untuk Nursing Education sebanyak 24 mahasiswa. Nantinya mereka akan ditempatkan di sekolah-sekolah yang berbasis tentang keperawatan dan mereka akan diajarkan tentang bagaimana membuat kurikulum pendidikan keperawatan. Sedangkan 35 mahasiswa lainnya akan ditempatkan di rumah sakit di negara-negara tersebut, nantinya di sana mereka akan mempelajari tentang medical bedah, “ jelasnya.

 

Dari masing-masing dua jurusan tersebut ada beberapa kompetesi yang harus dikuasai dan dipelajari oleh peserta student exchange. “Ada 6 kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta, antara lain kemampuan menjadi provider, manager, peneliti, pengajar, pemimpin, dan konsultan. Pertama, mahasiswa harus mampu merancang program inovatif dalam memberikan keperawatan dan menerapkan prinsip etika dan hukum dalam memberikan perawatan ke pasien. Kedua, mahasiswa mampu memahami dan menerapkan konsep manajemen kesehatan dan mampu mengelola medis bedah pasien yang sedang rawat inap. Ketiga, mahasiswa mampu menerapkan konsep penelitian kuantitatif untuk penelitian tentang teori dan mampu mengelola keperawatan pada pasien medis bedah," jelas Yuni lagi.

 

Kompetesi keempat, lanjut Yuni, mahasiswa harus mampu betindak sebagai pendidik di lingkungan dan pelayanan keperawatan. Kelima, mahasiswa mampu memahami dan menerapkan konsep kepemimpinan dalam mengambil keputusan dalam sistem perawatan kesehatan secara professional serta mampu berkolaborasi antar perawat professional. "Kemudian yang kenam, mahasiswa mampu bertindak sebagai konsultan dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan dalam hal pendidikan dan pelayanan, “ lanjutnya.

 

Sementara itu, Dr. Ahmad Nurmandi selaku Direktur Pascasarjana UMY menambahkan, program ini akan berjalan selama 1 bulan lamanya, untuk itu para peserta diberikan pembekalan sebelum keberangkatan. “Karena program ini bukan 1 atau 3 hari, maka para peserta harus benar-benar menyiapkan diri bukan hanya dalam bahasa dan materi. Misalnya, mereka harus lebih berhati-hati dalam menyimpan dokumen kewarganegaraan jangan sampai paspor hilang karena kalau hilang akan merepotkan semua orang jadi jaga baik-baik. Pengenalan budaya di masing-masing negara itu menjadi poin penting juga, karena di sana mereka akan bertindak sebagai participant, maka mau tidak mau harus menghormati kebudayaan di sana. Misalnya ketika ada operasi, mungkin prosesnya pembedahannya sama tapi yang membedakan adalah ritme kerja mereka yang mungkin berbeda dengan kita di sini, “ terangnya.

 

Nurmandi melanjutkan bahwa, mahasiswa Magister Keperawatan tersebut juga harus bisa mengambil kesempatan ketika mendapat kesempatan belajar di sana walaupun hanya 1 bulan, sebab mereka bisa mendapatkan banyak hal. "Jadi, saya mengharapkan mahasiswa bisa punya lebih banyak data untuk melakukan sebuah disertasi. Misalnya disertasi yang dilakukan adalah mengkombinasikan isu atau kasus yang ada di Indonesia dengan negara yang ditempati. Jika ada, maka setelah di publikasi bisa sangat kaya dan UMY bisa menjadi sebuah reverensi bagi universitas lain ketika membuat disertasi, “ tambahnya.

 

Nurmandi juga mengatakan bahwa program M.Kep ini sangat unik karena, masih sedikit universitas yang menyediakan program M.Kep ini. “Untuk itu keunikan ini harus digunakan atau dimanfaatkan sebaik mungkin. Selain dalam hal akademik, pengalaman ini bisa dimanfaatkan untuk memperluas jaringan dengan negara lain. Dengan membuat jaringan atau silaturahmi yang baik maka secara tidak langsung ini bisa menjalin sebuah kerja sama yang sangat kuat juga. Selain itu bisa memperlebar wawasan bukan hanya Bantul, Sleman saja tetapi harus lintas negara. Namun, yang perlu diperhatikan untuk membangun hubungan baik juga tidak sembarangan dan jangan asal, agar nantinya kita pun bisa dihormati oleh negara lain,“ imbuhnya. (bhp umy) 

Shared:
Shared:
1