Kurban Memberangus Keserakahan Manusia

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 25 September 2015 15:22 WIB

PEMBERANGUSAN simbol keserakahan melalui penyembelihan hewan kurban merupakan esensi di balik pelaksanaan Idul Adha yang dilakukan umat Islam setiap tahunnya. Dengan ritual tersebut, diharapkan umat Islam dapat menjaga diri dari sikap berlebih-lebihan.

Hal itu menjadi pesan utama yang disampaikan oleh ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Dadang Kahmad, M.Si. saat menyampaikan khutbah Idul Adha 1436 Hijriyah di halaman helipad Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (23/9). Bagi Dadang, momen ini mestinya menjadi refleksi umat Islam sedunia di tengah berbagai konflik yang saat ini tengah melanda sejumlah negara Muslim. “Saat ini banyak kaum muslimin di sejumlah negara konflik yang mencari suaka di negara mayoritas non-Muslim. Ini cobaan bagi kita," ungkapnya. Mestinya, kata Dadang, negara mayoritas Muslim bisa menjadi potret ideal negara yang damai, sesuai dengan nilai-nilai ajarannya. “Untuk itulah, perlu auto-kritik agar kita terus memperbaiki diri, demi masa generasi masa depan umat Islam yang lebih baik,” papar Dadang.

Untuk itu, bagi Dadang, Idul Adha juga semestinya disadari sebagai momen pemberangusan ego agar terhindar dari segala bentuk keserakahan, konflik, dan adu domba. Ego tersebut diharapkan hancur oleh rasa peduli dengan cara berkurban demi kepentingan orang-orang yang kurang beruntung secara ekonomi.

Pandangan Mahasiswa Asing

Penyembelihan hewan kurban yang dilakukan di tempat umum menjadi fenomena yang tak biasa bagi kebanyakan orang Eropa maupun Amerika. Demikian pula bagi Mariam Garcia, mahasiswi pertukaran program studi Hubungan Internasional UMM asal Venezuela, Amerika Selatan. “Ini pertama kalinya saya melihat langsung hewan disembelih di depan umum. Saya mengaku sedikit takut melihatnya. Tapi saya sangat kagum dengan misi sosial di balik penyembelihan ini,” kata Mariam yang sebelumnya kuliah di La Universidad Metropolitana, Caracas, Venezuela ini.

Sebagai seorang Kristiani, Mariam banyak mengetahui tentang konsep kurban yang akarnya berasal dari sejarah nabi Ibrahim dan Ismail ini. Baginya, ini adalah cara yang mulia untuk berbagi dengan orang miskin.“Memang banyak orang Eropa maupun Amerika yang tidak suka dengan proses penyembelihan ini sehingga menyebutnya sebagai tindakan Barbarian, apalagi disaksikan oleh banyak orang. Tapi menurut saya ini perlu. Kita perlu tau darimana daging yang kita makan, bagaimana prosesnya, tidak hanya asal mau makan saya,” ungkapnya antusias.

Sementara itu, terkait penyediaan hewan kurban, menurut ketua panitia Idul Adha Ahmad Fatoni, UMM telah menyiapkan 10 sapi dan 22 kambing. Namun, tidak semuanya disembelih di UMM. “Yang disembelih di UMM yaitu 6 sapi dan 3 kambing di kampus III, lalu 1 sapi di kampus II. Sisanya disumbangkan ke sejumlah titik dakwah Muhammadiyah,” terangnya.

Untuk distribusinya, UMM memprioritaskan untuk dibagikan pada masyarakat sekitar kampus I, II, dan III, serta Rumah Sakit UMM. Selain itu, juga disebar pada sejumlah cabang dan ranting Muhammadiah dan Aisyiyah di Malang. Agar distribusi lebih meluas, UMM memanfaatkan peran aktivis mahasiswa, melalui sejumlah organisasi seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Unit Kegiatan Mahasiswa Kerohanian (UKM-K), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). (han)(mac)

Shared:
Shared:
1