Rektor UMM: Guru Profesional = Keahlian + Tanggungjawab Sosial + Ikatan Profesi

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 18 Februari 2011 10:44 WIB

Malang- Sosialisasi Sertifikasi Guru se-Kabupaten Malang, Kamis (17/02/2011), di UMM Dome diawali dengan ceramah oleh rektor UMM, Dr. Muhadjir Effendy, MAP. Bupati Malang, Rendra Kresna yang sedianya membuka acara terlambat datang karena masih harus mengikuti acara di Pendopo Kabupaten. Rendra akhirnya bisa hadir di tengah-tengah 2.710 guru saat materi sosialisasi sedang berlangsung.

Rendra berharap peserta guru sertifikasi dapat memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan kinerjanya. Kepada UMM yang menjadi Penyelenggara Sertifikasi Guru (PSG), dia yakin bahwa kredibilitas UMM sangat tinggi dan tidak akan mau main-main, termasuk dengan suap untuk meloloskan guru calon sertifikasi.

 “Sebagai alumni UMM, saya tahu UMM sangat berkomitmen untuk memajukan kualitas guru dan tidak akan main-main. Tetapi saya tetap berharap bahwa seluruh guru di Kabupaten Malang yang mengikuti sertifikasi di UMM bisa lulus dengan baik,” kata Rendra. Pihaknya juga berterima kasih kepada UMM yang telah bersedia menjadi tuan rumah acara itu.

Pada ceramah pertama, Muhadjir didampingi kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, Drs. H. Suwandi, MM, dan Dekan FKIP UMM, Drs. Fauzan, MPd menekankan keseriusan guru dalam menjalankan profesinya. Tunjangan profesi, menurutnya, menuntut kinerja guru yang semakin profesional sebagaimana profesi lain, seperti dokter dan pengacara.
 
“Ada tiga hal yang harus diperhatikan,” kata Muhadjir. Pertama, sikap profesional itu harus didukung oleh expertise, atau keahlian atau kompetensi yang tinggi. Guru harus senantiasa meningkatkan kemampuannya untuk mendidik siswanya dengan kompetensi keilmuan yang memadai. Kedua, social responsibilty atau tanggung jawab sosial. Menjadi guru merupakan panggilan jiwa untuk mengabdi kepada bangsa dan masyarakat. Tanggung jawab guru harus dipikirkan hingga efek yang akan ditimbulkan dari proses pengajaran kepada siswanya.

“Memang guru berjasa menjadikan banyak pemimpin di negeri ini. Tetapi guru juga harus bertanggung jawab mengapa masih banyak sekali muridnya yang jadi koruptor. Jadi guru itu pahalanya banyak, tetapi dosanya juga banyak jika tidak memiliki tanggung jawab,” kata Muhadjir menyontohkan.

Ketiga, menurut Muhadjir, guru harus memiliki corporateness, sebuah ikatan yang kuat diantara anggora profesi. Sebagaimana dokter yang memiliki IDI, guru juga harusnya memiliki ikatan korp yang kuat untuk mengontrol kode etik profesi dan meningkatkan kompetensi anggotanya. Korps itu bisa dibentuk secara khusus pada spesifikasi guru mata pelajaran, misalnya Korp Guru Matematika, Korp Guru Geografi, dan lainnya. “Ada catatan penting, korps itu tidak boleh digunakan untuk tarik menarik kepentingan yang tidak perlu, misalnya untuk mendukung kekuatan politik tertentu,” ujar Muhadjir.

Lebih lanjut Muhadjir membandingkan profesi dokter dengan guru yang memiliki tanggung jawab besar tetapi berbeda jika keduanya melakukan mal-praktek. Jika dokter melakukan kesalahan diagnosa dan melakukan mal-praktek maka bisa berakibat kepada pasiennya saja. Tetapi jika guru melakukan mal-praktek, misalnya mengajar dengan materi yang menyesatkan dan tidak bertanggung jawab, maka akibatnya bisa turun temurun dan sangat luas. Karakter bangsa, menurutnya, salah satunya juga menjadi tanggung jawab guru. Jika salah membentuk, maka bangsa ini juga bisa runtuh.

Muhadjir yakin, jika tiga hal itu diperhatikan niscaya sertifikasi guru tak akan sia-sia. Tidak akan ada lagi kesan bahwa pemberian tunjangan tambahan hanya memboroskan anggaran negara saja. Lebih dari itu, sertifikasi guru merupakan keharusan karena memang guru seharusnya lebih profesional dan diperhatikan nasibnya.

Dalam kesempatan itu, Kadinas Pendidikan merinci peserta sertifikasi guru di Kabupaten Malang. Mereka terdiri dari guru SMA 185 orang, SMK 170 orang, SMP 289 orang, SLB 21 orang, SD 1900 orang, TK 150 orang. Diantara mereka, 2050 orang adalah PNS, 685 non PNS dan 200 orang GTT.

Selain Muhadjir, pemateri sosialisasi lainnya antara lain, dekan FKIP UMM, dan Kasi Program dan Sistem Informasi LPMP Jatim, Toni Satria Dugananda. (umm.ac.id)

Shared:
Shared:
1