Universitas Muhammadiyah Magelang Teliti Perilaku Pemilih

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 21 Agustus 2015 21:56 WIB

Magelang - Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah Magelang melakukan penelitian terhadap perilaku pemilih masyarakat Kota Magelang, Jawa Tengah, terkait dengan pelaksanaan pesta demokrasi.

"Penelitian tentang perilaku pemilih masyarakat Kota Magelang dalam pemilihan umum serta sejauh mana pengaruh existing masyarakat, orientasi politik, dan popularitas calon yang dipilih terhadap perilaku pemilih dalam pemilihan umum," kata salah seorang peneliti dari LPPM UMM Kanthi Pamungkas Sari dalam paparan hasil penelitian tersebut di Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Magelang di Magelang, Jumat (21/8).

Penelitian tersebut, katanya, dibatasi pada perilaku pemilih masyarakat setempat pada pemilu yang lalu, yang terdiri atas Pilkada Kota Magelang, Pemilihan Gubernur Jateng, Pemilu Legislatif, dan Pemilu Presiden.

Berdasarkan penelitian selama tiga bulan, mulai Mei hingga Juli, dengan desain penelitian lapangan dan metode kuantitatif itu, tim antara lain menyimpulkan bahwa "existing" masyarakat setempat pada kategori menengah, orientasi politik pada kategori afektif, popularitas calon yang dipilih kategori sedang, dan perilaku pemilih kategori kritis.

Pihaknya mengemukakan bahwa pendidikan politik bagi masyarakat setempat sebagai suatu keharusan.

"Akibat kurang dikoordinasikan secara objektif, konsisten, dan berkelanjutan maka orientasi politik masyarakat bisa mengalami pasang surut yang berarti. Terkait hal itu, sampai saat ini belum ada upaya-upaya khusus yang dilakukan oleh berbagai pemangku kepentingan di Kota Magelang," katanya.

Selain itu, katanya, pendidikan politik lebih terkonsentrasi berdekatan dengan waktu pemilihan.

"Maka perlu diselenggarakan jejaring dari pemangku kepentingan untuk melakukan pendidikan politik secara kontinyu dan berkesinambungan. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat Kota Magelang dapat menjadi pemilih yang lebih cerdas dan partisipasi politik yang lebih baik," katanya.

Berdasarkan data penelitian, katanya, sudah nampak bahwa masyarakat berusaha mengetahui melalui media massa tentang sosok yang hendak dipilih.

Namun, kata Kanthi, mereka merasakan bahwa sebagian besar partai politik masih belum memiliki mekanisme seleksi yang dapat menjamin calon yang akan dipilih sebagai figur yang terbaik.

"Popularitas calon pemimpin sudah menjadi pertimbangan. Bila benar-benar terpilih menjadi pemimpin atau wakil rakyat maka diharapkan untuk lebih bertanggung jawab atau menepati janji, visi, misi, program kerja yang dipublikasikan sebelumnya," katanya.

Ia mengharapkan hasil peneltian tersebut dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan keilmuan, terutama yang berkaitan langsung dengan kajian sosiologi politik.

"Hasil temuan yang diolah secara proporsional dan profesional diharapkan menjadi sumbangan pemikiran bagi pemerintah dalam merancang level kebijakan mengenai proses pemilu baik dalam pilkada, pemilu legislatif, maupun pemilu presiden, dan pendidikan politik yang tepat bagi masyarakat, seleksi calon yang dipilih sesuai dengan yang diharapkan masyarakat," kata Kanthi. (dzar)

Shared:
Shared:
1