Dari Istanbul, Din Syamsuddin Serukan Aksi Bersama

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 20 Agustus 2015 00:49 WIB

Seratusan tokoh Islam dari beberapa negara deklarasikan respons umat Islam terhadap malapetaka dunia, perubahan iklim dan pemanasan global. Mereka terdiri dari para ulama, cendekiawan, dan aktifis lingkungan Muslim. Dari Indonesia hadir Prof. Din Syamsuddin, Ketua Umum MUI Pusat, dan Dr. Fachruddin Mangunjaya, Wakil Direktur Pusat Studi Islam Universitas Nasional, serta ada juga Nana Firman, aktifis Green Faith, asal Indinesia yang bermukim di Amerika Serikat.

Setelah berdiskusi selama dua hari dlm International Symposium on Islamic Climate Change, mereka mengeluarkan deklarasi tentang pandangan dan sikap umat Islam terhadap masalah perubahan iklim. Pada intinya deklarasi menegaskan keprihatinan umat Islam sedunia terhadap krisis iklim dan lingkungan hidup global yang telah membawa dampak buruk serius mengenai kehidupan dan peradaban umat manusia, seperti adanya panas ekstrim yg melanda beberapa negara, India, Pakistan, dan Mesir yg membawa korban, dlsbnya.

Berdasarkan ajaran Islam yang menekankan tauhid atau kesatuan penciptaaan yg krnnya alam memiliki dimensi suci, dan manusia berfungsi sbg wakil Tuhan di muka bumi, maka deklarasi menyerukan umat manusia utk melakukan berbagai langkah perbaikan dan menghentikan perbuatan merusak lingkungan hidup. Deklarasi juga mendesak kepada pemerintah negara-negara di dunia utk menekan peningkatan emisi dan efek rumah kaca serendah mungkin.

Din Syamsuddin yang ikut jadi narasumber pada simposium tersebut menjelaskan bahwa Islam adalah agama alam (religion of nature) dan membawa pesan kerahmatan dan kesemestaan (rahmatan lil alamin). Maka, seyogyanya umat Islam tampil sbg leader dlm menanggulangi kerusakan global yg bersifat akumikatif. Din juga menegaskan bhw sistem dunia dan negara2 industri berinvestasi pada pemanasan globaldan perubahan iklim, maka oleh karena itu perlu perubahan sistem dunia dan turunannya dlm bidang ekonomi, sosial dan politik, dgn suatu sistem alternatif. Sistem baru ini perlu bertumpu pada nilai-nilai moral dan etika keagamaan. Dalam kaitan ini, perlu dirumuskan nilai nilai etika bersama (shared ethical values) utk penanggulangan perubahan iklim dan pemanasan global tsb.

Deklarasi dan pikiran2 dari Simposium Istanbul ini akan disampaikan pada fora dunia lanjutan, antara lain, Konperensi Agama-agama untuk Pembangunan Berkelanjutan di Bristol, Inggeris, 8-9 September, dan COP 2015 di Paris yg melibatkan wakil2 negara dan masyarakan madanindari seluruh dunia.

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, dan Fachruddin Mangunjaya yang akan menghadiri forum itu berjanji akan terus menyuarakan pandangan  Islam dan pengalaman Indonesia utk dunia. (set)

Shared:
Shared:
1