'Aisyiyah Prioritaskan Penguatan Keluarga

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 04 Agustus 2015 16:56 WIB

Makassar - Usia pembukaan Muktamar Muhammadiyah-‘Aisyiyah ke-47, ‘Aisyiyah gelar Tabligh Akbar di Balai Prajurit M. Jusuf (3/8), Makassar. Dalam sambutannya, Ketua Umum PP ‘Aisyiyah, Noordjannah Djohantini, mengatakan bahwa penyelenggaraan tabligh akbar bagian dari tradisi ‘Aisyiyah, “acara ini selalu dilakukan sebelum pelaksanaan sidang Muktamar,” ujarnya.

Acara yang diikuti oleh 2000 Muktamirin ‘Aisyiyah ini berlangsung meriah. Hadir  dalam tabligh akbar, Din Syamsuddin, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah; Pangdam VII Wirabuana, Bachtiar; Direktur Surat dan Paket PT POS Indonesia, Agus F. Handoyo; Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Rektor Universitas Ahmad Dahlan, Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta, Ketua Stikes ‘Aisyiyah se-Indonesia, pengamat Muhammadiyah-‘Aisyiyah, dan tamu undangan baik dalam dan luar negeri.

Dalam pidatonya, Din mengapresiasi gerakan ‘Aisyiyah sebagai representasi dari profil ‘Aisyah, istri Muhammad yang cerdas dan pejuang. Din yang ingin mendirikan Ranting di tempatnya tinggal ini mencontohkan, bahwa di Cilandak, salah satu kecamatan penting di Jakarta Selatan, telah berdiri Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah meski belum berdiri Pimpinan Cabang Muhammadiyah. Bahkan di salah satu kelurahan, telah berdiri 3 Ranting ‘Aisyiyah, “pokoknya Top Markotop.”

Ketua Umum PP Muhammadiyah ini juga menyoroti problem yang ia sebut sebagai rubuhnya keluarga kita. Menurutnya, keluarga tidak lagi berfungsi sebagai perisai terakhir dalam pendidikan anak dan gempuran liberalisasi. Padahal, tambahnya, tidak akan ada baldah thayyibah kalau tidak ada usrah thayyibah, dan tidak akan ada usrah thayyibah jika di dalamnya tidak ada hayatan thayyibah. Din berharap agar gerakan ‘Aisyiyah ke depan memberikan perhatian pada pembangunan keluarga.

Merespon hal tersebut, Susilaningsih, Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah mengatakan, penguatan keluarga memang merupakan salah satu prioritas program ‘Aisyiyah dengan memperhatikan tantangan-tantangan baru. Menurut Susilaningsih, keluarga harus dikuatkan karena banyak sekali terjadi kerentanan akibat pernikahan dini, banyaknya perceraian, maupun menjadikan anak sebagai objek sehingga memungkinkan terjadinya kekerasan terhadap anak. 

Di ‘Aisyiyah, ujar Susilaningsih, dikenal konsep keluarga sakinah yang telah memasuki edisi revisi atau pembaruan untuk merespon dinamika zaman. Keluarga sakinah dalam pandangan ‘Aisyiyah, ungkap Susi, merupakan bangunan keluarga melalui perkawinan yang sah dan dicatatkan, yang dilandasi rasa saling menyayang dan menghargai  dengan penuh rasa tanggungjawab dalam menghadirkan suasana kedamaian, ketentraman, dan kebahagiaan hidup. Kata ‘saling’ menjadi kata kunci dalam bangunan keluarga sakinah, tegas Susi. Hubungan yang setara antara satu dengan yang lain, tidak ada sikap yang melecehkan dan merendahkan, baik antara suami dengan istri maupun orang tua dengan anak, menurut Susi menjadi landasan yang penting dalam membangun keluarga. Dalam keluarga sakinah, ungkap Susi, dikenal 10 fungsi keluarga, 1) spiritual, 2) internalisasi nilai Islam yang berkemajuan; 3) biologis-reproduktif; 4) cinta kasih; 5) pendidikan; 6) ekonomi; 7) perlindungan; 8) kemasyarakatan; 9) rekreasi; dan 10) kaderisasi.

Beberapa hal yang bisa dilakukan oleh ‘Aisyiyah, Susi mencontohkan, melakukan pelatihan atau peningkatan kapasitas bagi suami dan istri melalui pelatihan pra nikah maupun paska nikah sesuai fase masing-masing, usia 1-5 tahun pernikahan, 5-15 tahun dan selanjutnya; karena masing-masing fase, memiliki tantangannya masing-masing. ‘Aisyiyah bisa melakukannya di semua lini, tambah Susi, baik itu melaui pengajian maupun melalui komunitas wali murid sekolah-sekolah yang dikelola oleh ‘Aisyiyah-Muhammadiyah. Selain itu, pendidikan keluarga juga bisa diintegrasikan dalam kurikulum sekolah, sehingga dapat mengenalkan anak pada institusi keluarga, seperti bagaimana bersikap pada orang tua, saudara, maupun lingkungan sekitar termasuk literasi media dan teknologi.

Shared:
Shared:
1