Muazin Bangsa dari Makkah Darat: Biografi Intelektual Ahmad Syafii Maarif

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 04 Juli 2015 14:45 WIB

Jakarta –Tak banyak tokoh Islam yang berintegritas, memiliki pemikiran seluas samudra, dan mampu menjadi tokoh lintas agama. Ahmad Syafii Maarif adalah salah satunya. Sebagai wujud salutasi bagi sang Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah 1998 -2005 dan pendiri Maarif Institute, 14 penulis mempersembahkan buku ’’Muazin Bangsa dari Makkah Darat.’’ Buku setebal 426 halaman ini diluncurkan di Bentara Budaya Jakarta, pada Jum’at (3/7).

Salah satu pembahas buku pada acara tersebut yaitu mantan rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Komaruddin Hidayat yang menilai bahwa Maarif  sebagai tokoh berintegritas dan mampu menjadi tokoh lintas agama. Komaruddin memuji Buya Syafii Maarif sebagai orang yang sederhana dan berintegritas sehingga orang lain percaya dengan kata-katanya, Buya juga bisa membedakan nilai ajaran Nabi Muhammad dan Islam di Timur Tengah karena pikirannya dibaca, sekaligus pemikirannya membaca sejarah.

Selain Komaruddin Hidayat, pengajar Unika Atma Jaya Alois A. Nugroho yang juga menjadi pembahas pada sore itu, menekankan bahwa buku yang berjudul ’’Muazin Bangsa dari Makkah Darat’’ menggambarkan sikap Maarif yang  tidak bosan meneriakkan kritik, menyerukan mana yang benar dan mana yang salah, serta tidak jemu-jemu walaupun yang diserukan tidak kapok-kapok. Kita memerlukan orang yang berani bersuara dan berani pada diri sendiri seperti Maarif. Alois juga menegaskan bahwa kita sangat membutuhkan muazin yang bisa mengatakan bahwa salah adalah salah dan benar adalah benar, dengan begitu si pelaku kesalahan dapat memahami bahwa perbuatannya itu telah merugikan banyak orang.

Pembahas buku yang terakhir, Rahmawati Husein sebagai pengajar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta juga menekankan perhatian Maarif pada perilaku yang abai terhadap lingkungan. Perilaku korup menjadi pemicu rusaknya sumber daya alam (SDA). Wakil Ketua MDMC ini juga menyampaikan bahwa korupsi dilakukan 53 kepala daerah itu berhubungan dengan izin eksploitasi alam. Buya sangat keras menyampaikan korupsi yang berhubungan dengan banjir dan kerusakan alam.

Di akhir sesi pembahasan buku, ketiga pembicara menyampaikan testimoni untuk Maarif. Komaruddin menggaris bawahi pentingnya lembaga studi Islam, sedangkan Alois dan Rahmawati menyampaikan salutasi bagi pemikiran Maarif. Komaruddin mengatakan bahwa di Indonesia ini, saat bicara mengenai pusat studi keislaman masih massa dan belum lembaga. Sebelum Buya menyampaikan salam perpisahan dengan kami, masih ada tugas baru, yaitu merintis institusi keislaman yang world class. Komaruddin juga berharap, semoga tidak hanya tulisannya yang dikenal dan dibaca, namun juga lembaganya. Dahulu, katanya, Sriwijaya itu pusat studi Hindu, kenapa tidak sekarang didirikan dalam konteks Islam?

Rahmawati mengatakan bahwa buku ini menerjemahkan bagaimana pemikiran Buya menjadi seluas samudra karena beliau tidak hanya menjadi tokoh Islam tetapi lintas agama. Alois juga menambahkan, jika pemikiran Buya harus disimak masyarakat Indonesia dan masyarakat global. (lala) (dzar)

Shared:
Shared:
1