Ideologis, Instrumentalis, dan Arkeologi Pengetahuan Menjadi Kunci Bertahan Muhammadiyah

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 02 Juli 2015 15:24 WIB
Malang- Muhadjir menilai, Muhammadiyah hingga saat ini bisa terus bertahan dan justru kian berperan penting lantaran memiliki tiga perangkat yang membuat ide bisa menjadi tindakan, yaitu kekuatan dari sisi arkeologi pengetahuan, serta kekuatan ideologis dan instrumentalis.
 
Hal itu terekam dalam salah satu sesi Kajian Ramadhan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur 1436 Hijriyah bertema “Tantangan Muhammadiyah Lima Tahun ke Depan” yang berlangsung pada Ahad lalu(28/7) di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menurut Muhadjir, dari sisi kedalaman gagasan, Muhammadiyah dinilai Muhadjir memiliki akar arkeologi pengetahuan yang kuat. Banyak organisasi yang menurut Muhadjir tidak bisa berkembang di Indonesia karena tidak memiliki silsilah pengetahun yang kuat. "Muhammadiyah dipandang berhasil mengembangkan sistem keyakinan pada anggotanya bahwa ber-Muhammadiyah merupakan cara ber-Islam yang terbaik. Adapun dari sisi instumentalis, Muhammadiyah memiliki banyak perangkat praktis yang membuat organisasi ini dapat mempraksiskan ide-idenya," jelasnya.
 
Muhadjir berharap, Muhammadiyah ke depan dapat memperkuat orientasi kemanusiaan-nya, yaitu membangun humanisme universal. Dengan begitu, Muhammadiyah dapat melampaui batas-batas orientasi pribadi (individualisme), kekerabatan (nepotisme), golongan (parokialisme), dan kebangsaan (nasionalisme).
 
Pada Sesi Pengajian ini menghadirkan pembicara, ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Dr Haedar Nashir, sekretaris jenderal (Sekjen) PP Muhammadiyah Dr Abdul Mu'thi, dan Rektor UMM Prof Dr Muhadjir Effedy MAP. Dalam paparannya, Haedar mengatakan,gagasan Indonesia berkemajuan dapat terwujud jika Muhammadiyah bisa melakukan sinergi antar lini, terutama dengan berbagai kekuatan masyarakat sipil.(humasUMM)(mac)
Shared:
Shared:
1