Kembalikan Identitas Generasi Intelektual Muslim, IMM Soedirman Gelar Stadium General

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Rabu, 17 Juni 2015 22:41 WIB

Purwokerto – Stadium general dengan tema “Rekontruksi Ilmu Pengetahuan Berbasis Nalar Ayat-Ayat Semesta”yang digelar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Soedirman UNSOED, Ahad (14/6) kemarin menghadirkan keynote speaker Totok Agung (Guru Besar Fakultas Pertanian UNSOED), Totok mengatakan bahwa jika menengok sejarah ilmuwan-ilmuwan hebat masa lampau, mereka adalah ilmuwan-ilmuwan muslim. Akan tetapi muslim hari ini masih sibuk akan perdebatan lain dan sering melupakan 800 ayat kauniyah dalam Al-Quran yang juga Allah turunkan sebagai petunjuk. Ini spirit kita bersama.

Kegiatan diadakan di Aula FISIP UNSOED, yang dihadiri oleh delegasi dari oganisasi gerakan se lingkungan UNSOED, Lembaga Dakwah Fakultas (LDF) UNSOED, BEM Fakultas, IMM se Kabupaten Banyumas, alumni IMM dan umum. Peserta yang hadir pada kegiatan silaturahmi ini sekitar 120 orang.

Ketua Umum IMM Soedirman, Mulkan Putra Suhada, menjelaskan bahwa bahasan terkait Islam dan ilmu ini nampaknya sangat asing dikaji di kampus Negeri, padahal pondasi keislaman dan keilmuan adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. “Maka IMM Soedirman mencoba mengawali dalam membuka cakrawala Islam dan ilmu dengan mengadakan stadiumgeneral ini.

Kegiatanini diawali dengan pengantar materi yang disampaikan olehKemudian dilanjutkan dengan kedua narasumber yang memandang islam dan ilmu dari aspek sosial dan sains, yakni Agus Purwanto sebagai penggagasTRENSAINS (Pesantren Sains) yang menyampaikan dari aspek sains Islam dan Imam Santosa sebagai Guru Besar FISIP UNSOED yang memandang Islam dan ilmu dari aspek sosial profetik.

Guspur (sapaan akrab Agus Purwanto) sains barat bertumpu pada materialisme ilmiah, yakni Tuhan dianggap imajinasi manusia yang lemah dan tak berdaya, malaikat dan setan dianggap sebagai lompatan agen untuk menjelaskan fenomena alam. “Materialisme ilmiah menolak keberadaan Tuhan, materi dianggap ada pada keabadian masa lalu, tanpa ada campur tangan Tuhan. Itulah yang terjadi hari ini”,kata Guspur.

Dikotomi antara islam dan ilmudewasa ini masih sangat dirasakan, tidak ada kesinambungan antara keduanya. “Hal ini tentu sangat berpengaruh terhadap bangunan tata nilai bangsa, Maka, wajar jika banyak muncul ilmuwan atheis, dan produk ilmuwan hari ini hanya merusak pada kebobrokan tata nilai”, ungkap Imam Santosa yang memandang dari aspek sosial profetik. Pada akhirnya teknologi menjadi kambing hitam akan kebobrokan tata nilai tersebut.

Peserta terbius akan diskusi kondisi riil muslim dan generasi intelektual hari ini, kegelisahan-kegelisahan yang menunjukan kepedulian muncul dengan sederetan pertanyaan, diskusi berlangsung ramai, hingga pertanyaan-pertanyaan masih tersisa sampai waktu sudah berakhir.

Menutup rangkaian stadium general, moderator Andi Wahyono, menyimpulkan sejatinya ilmu itu harus mengantarkan kita untuk mengenal Tuhannya, bahkan hingga mengantarkan untuk lebih dekat dengan Tuhannya. Sehingga memberikan manfaat untuk kemajuan umat tanpa mengkerdilkan sains itu sendiri. Bahkan akan membawa terhadap kekayaan atau kebangkitan tata nilai. Pada akhirnya cita-cita mulia sadartentang kebenaran adalah sesuatu yang bisa diterima oleh akal, sesuai teks Islam dan bisa diterima oleh hati akan menjadi semangat kita semua. (dzar)

Shared:
Shared:
1