Abad Kedua, ‘Aisyiyah Harus Lebih Peka Pada Masalah Sosial

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 23 Mei 2015 23:44 WIB

Sleman  - Memasuki abad kedua dalam hitungan kalender Miladiyah, ‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan tertua di Indonesia harus menjadi organisasi yang lebih peka pada permasalah sosial masyarakat yang selama ini ada.

Hal tersebut disampaikan Ketua PP Muhammadiyah, Abdul Malik Fadjar dalam Keynote Speech Seminar Pra Muktamar 47 ‘Aisyiyah, Sabtu (23/05) di STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta. Menurut Malik Fadjar, hal itu merupakan bentuk nyata dari reaktualisasi peran ‘Aisyiyah di masyarakat. Reaktualisasi tersebut bisa dilakukan dengan mulai mendorong lahirnya penulis-penulis perempuan dan menjadikan perguruan tinggi organisasi sebagai ajang pemikiran.“Reaktualisasi ini harus diserap dan dipelopori oleh STIKES,” ujar dia.

Malik Fadjar juga menambahkan, ‘Aisyiyah harus memahami dokumen sejarah sebagai bentuk refleksi. Menurutnya sebuah gerakan akan mandeg ketika tidak mengenal jejak yang pernah ditempuhnya. Malik mencontohkan peran ‘Aisyiyah dalam kongres perempuan pertama pada 1928 sebagai bentuk refleksi jejak peran ‘Aisyiyah di masa lalu.

“Siti Munjiyah dan Siti Hayinah (perwakilan ‘Aisyiyah) hadir bukan menjadi penggembira. Kala itu mereka terlibat dan menjadi saksi sejarah gerakan perempuan,” kata Malik.

Untuk itu reaktualisasi ‘Aisyiyah menuju abad kedua harus menjadi gerakan praksis yang memiliki kepekaan pada isu sosial yang ada di masyarakat. “ ‘Aisyiyah harus bisa memposisikan diri, harus punya peran di segala hal di abad kedua,”, tutupnya. (mida) (dzar)

Shared:
Shared:
1