Jika Tidak Siap, MEA Bisa Menjadi Bencana di Indonesia.

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Rabu, 25 Februari 2015 09:31 WIB

Yogyakarta- Akhir tahun 2015 akan diresmikan Masyarakat Ekonomi ASEAN yang akan meramaikan pasar di ASEAN dan bisa menjadi tolak ukur bagi perekonomian di Indonesia. Demi menyambut MEA 2015, seluruh masyarakat Indonesia termasuk mahasiswa dan semua sivitas akademika di Indonesia harus terus meningkatkan keterampilan dan mempersiapkan dirinya agar mampu bersaing dengan negara lain demi meningkatkan perekonomian Indonesia di mata ASEAN.

 

Hal inilah yang sedang dilakukan oleh Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) untuk bisa mempersiapkan diri mengahadapi MEA. Untuk membuka jalan tersebut maka, di Milad UMY ke 34 ini, UMY pun mengusung tema “Dengan Mutu Sumber Daya Manusia yang Tinggi, UMY Siap Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015”. “Alhamdulillah tema ini sudah disetujui oleh forum. Tema ini diambil agar UMY bisa lebih siap mengahadapi MEA nantinya. Bukan hanya itu saja ini juga bisa menjadi sebuah pembelajaran bagi kami untuk bisa mengahadapi MEA, “ tutur Nano Prawoto, selaku penanggung jawab acara Milad UMY ke-34.

 

 

Nano juga memaparkan bahwa ada 5 hal kebebebasan yang harus diikuti oleh negara-negara yang masuk dalam MEA. “Ketika Indonesia sudah masuk ke MEA ada 5 hal kebebasan atau liberalisasi yakni bebas keluar masuk barang, bebas dalam berbahasa, bebas dalam menanam modal, bebas dalam berinvestigasi, dan bebas dalam bidang ketenagakerjaan yang terdidik dan terampil. Untuk bidang ketenagakerjaan, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) belum termasuk. Intinya adalah bahwa hanya lulusan sarjana dengan skill bagus yang bisa bebas keluar masuk negara ASEAN tanpa hambatan, “ paparnya.

 

Bukan hanya itu saja, lanjut Nano, masyarakat Indonesia juga akan memperoleh manfaat tanpa hambatan, misalnya ketika ada pengiriman barang subsidi tidak perlu memakai kuota lagi. "Artinya, ketika kita akan impor sapi maksimal dalam setahun ada sekian sapi. Jika dalam bidang investasi, kita tidak usah lagi join dengan perusahaan lain yang ada di Indonesia, jadi kita bebas berinvestigasi di negara manapun tanpa harus join terlebih dahulu, “ paparnya.

 

Namun menurut Nano, ada beberapa hal yang perlu disiapkan untuk menghadapi MEA, karena jika masyarakat Indonesia tidak siap, tentu ini akan menjadi sebuah bencana bagi Indonesia sendiri. “Untuk MEA, tentu Indonesia harus menyiapkan SDM yang bagus pula. Jika tidak, kita akan menjadi penonton di negeri sendiri, Indonesia akan diserbu oleh barang-barang impor, jasa pendidikan, jasa kesehatan dari negara lain. Tentu, hal ini tidak boleh terjadi di Indonesia, untuk itu kita menyiapkan SDM yang memiliki daya saing tinggi dan mempersiapkan diri untuk bisa bersaing dengan negara lain, “ terangnya.

 

 

Setidaknya, lanjut Nano dengan Indonesia masuk dalam daftar MEA, Indonesia dapat memperoleh manfaat, misalnya bisa melakukan ekspansi barang ke negara lain, bahkan dalam sektor pendidikan pun bisa dilakukan. "Jadi, mahasiswa perlu motivasi dan usaha yang tinggi, karena kita bukan hanya berhadapan dengan yang ada di Bantul, Jogja, dan Indonesia saja. Tapi, mulai sekarang kita sudah berhadapan langsung dengan negara lain, “ pesannya.. (Icha/bhpumy)(mac)

Shared:
Shared:
1