UMM Bantu Masyarakat Bangun PLTMH

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 11 September 2011 22:56 WIB

 

Malang- Kerja keras masyarakat Sumbermaron, Desa Karangsuko, kecamatan Pagelaran Kabupaten Malang, untuk memiliki energi listrik mandiri segera membuahkan hasil. Hal ini terwujud setelah tim peneliti Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membantu melakukan studi kelayakan untuk membangun sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di sana. Bersama-sama Badan Pengelola Sarana Air Bersih dan Sanitasi (BP SAB&S) setempat, UMM melakukan kajian dan berhasil memperoleh sponsor dari Australian Partnership dan Bank Dunia untuk pendanaannya.

Menandai pembangunan PLTMH, masyarakat setempat menggelar seremoni peletakan batu pertama di lokasi pembangunan, Sabtu (10/9). Rektor UMM, Muhadjir Effendy, memperoleh kehormatan menjadi orang pertama yang menandai dimulainya pembangunan PLTMH Sumbermaron, diikuti Camat Pagelaran, kepala desa Karangsuko, tokoh masyarakat setempat dan Dekan Fakultas Teknik UMM. Proyek senilai Rp 408 juta itu direncananakan akan rampung dalam empat bulan ke depan.

Camat Pagelaran, Eko Waluyo, yakin bantuan pendampingan dari UMM akan berjalan baik. Sebab, beberapa PLTMH yang dibangun oleh UMM, seperti di Sukoanyar kecamatan Pakis, hingga sekarang masih beroperasi. Selain itu, UMM memiliki laboratorium PLTMH di kampus yang dimanfaatkan oleh mahasiswa dan masyarakat umum untuk belajar mengembangkan energi alternatif. “Saya berharap sumber air yang melimpah di Sumbermaron ini bisa dimanfaatkan dengan baik. Syukur-syukur kalau bisa bermanfaat bagi masyarakat di luar desa Karangsuko, karena kita tahu di daerah lain saat ini sedang mengalami kekeringan,” kata Eko Waluyo.

Dengan dibangunnya PLTMH di Sumbersuko, rektor berharap masyarakat lebih mencintai lingkungan dan mensyukuri nikmat Allah. Pihaknya siap apabila warga setempat memerlukan bantuan pendampingan lebih lanjut seperti untuk penghijauan dan penerangan jalan.

“UMM membantu merencanakan, pengawasan dan pembangunan. Tetapi saya berharap perawatannya harus dijaga betul oleh masyarakat sini supaya kemanfaatan PLTMH ini bisa awet,” ujar Muhadjir. Salah satu cara bersyukur nikmat adalah dengan menjaga dan merawat alam sebaik-baiknya.

Secara teknis, Dekan FT UMM, Sudarman, menjelaskan untuk sementara PLTMH yang dibangun akan menghasilkan energi listrik sebesar 35 KWA. Listrik itu akan dimanfaatkan untuk menggerakkan mesin pompa pengairan dan air bersih yang selama ini mengandalkan listrik dari PLN. Biaya yang dikeluarkan untuk membayar listrik perbulan rata-rata Rp 8 juta, dan diperkirakan akan terus naik seiring kebutuhan hingga Rp 20 juta. “Mudah-mudahan dengan keberhasilan PLTMH ini, nantinya bisa kita bangun lagi PLTMH II untuk penerangan desa,” terangnya.

Sekretaris Pusat Pengkajian dan Penerapan Energi Baru dan Terbarukan (P3EBT) UMM, Suwignyo, membenarkan banyaknya permintaan kepada UMM untuk melakukan pendampingan masyarakat membangun PLTMH, reactor biogas, listrik tenaga angin dan tenaga matahari. Namun, tidak semua bisa dilayani karena pertimbangan biaya dan kelayakan. Meski demikian, pihaknya merasa bersyukur karena antusiasme mahasiswa teknik untuk membantu juga besar. Melalui KKN dan penelitian, mereka bersedia membantu masyarakat.

Concern kita memang melakukan pengembangan energi alternatif terutama pada daerah-daerah yang tidak terjangkau listrik PLN atau daerah yang memiliki potensi tetapi belum bisa mengolahnya,” kata Suwignyo

Shared:
Shared:
1