UMM Dorong Internasionalisasi Bahasa Indonesia

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 04 November 2014 10:15 WIB

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar seminar internasional bertajuk “Membangun Peradaban Bangsa melalui Politik Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Internasional dan Bahasa Ilmu Pengetahuan”. Acara yang digelar oleh Lembaga Kebudayaan (LK) UMM bekerjasama dengan Prodi S1 dan S2 Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah UMM, ini berlangsung dua hari Selasa-Rabu (4-5/11) di ruang teater UMM Dome.

Kepala LK UMM, Dr Sugiarti, mengungkapkan bahasa Indonesia berpotensi menjadi bahasa ASEAN karena memiliki struktur yang sederhana, mudah dipelajari dan daya serap kosa kata yang kuat. “Selain itu, pengguna atau penutur bahasa ini merupakan paling banyak di ASEAN dengan persebaran geografis yang sangat luas,” tambahnya.

Hal senada disampaikan rektor UMM, Muhadjir Effendy. Sejak lama UMM berkonsentrasi untuk mendorong menjadikan bahasa Indonesia agar dapat digunakan secara luas dan diakui sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan bahasa internasional.  Untuk itu pihaknya mengundang para peneliti dan mahasiswa asing yang studi di UMM untuk mempelajari bahasa Indonesia dan menggunakannya untuk laporan penelitian dan bahasa sehari-hari di kampus. Mahasiswa asing yang belajar di UMM diwajibkan mempelajari bahasa Indonesia dan menggunakannya dalam pergaulan sehari-hari di samping bahasa asalnya. UMM sendiri telah menyiapkan unit Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA).

Setiap tahun UMM menerima sekitar 100 hingga 200 mahasiswa asing. Mereka mengikuti program reguler maupun khusus yang berasal dari berbagai negara. Jika ditotal, sejak tahun 1995, UMM telah melahirkan ribuan alumni mahasiswa asing yang kini mahir berbahasa Indonesia. Mereka dapat dijadikan duta internasionalisasi bahasa Indonesia yang efektif.

Dikatakan Rektor, ASEAN community tahun depan akan mengintegrasikan negara-negara Asia Tenggara dalam satu lingkaran sosial, politik, dan ekonomi. Hal itu meniscayakan persinggungan antara masing-masing budaya yang kian intens di antara negara-negara tersebut. “Saat itulah bahasa Indonesia dapat dijadikan sebagai bahasa transaksi dan diplomasi, minimal secara regional ASEAN dulu,” katanya. Hal ini juga merupakan bagian dari memperkuat kepribadian budaya Indonesia. (han/nas) (mac)

Shared:
Shared:
1