Gus Ipul: UMM Kampus Kebanggaan Warga Jatim

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 09 September 2014 05:35 WIB

Malang- Upacara pembukaan Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) 2014 berlangsung semarak. Tampak 7632 mahasiswa baru berjas merah dengan pakaian putih-putih memerahputihkan heliped UMM, Senin (8/9). Di antaranya, bahkan terdapat 70 mahasiswa asing dari berbagai negara.

Kehadiran Wakil Gubernur Jatim Syaifullah Yusuf atau lebih sering dipanggil Gus Ipul sebagai inspektur upacara membuat para maba tampak lebih antuasias.   Dalam amanatnya, Gus Ipul mengatakan, seharusnya mahasiswa UMM bersyukur bisa menikmati bangku kuliah karena dari seluruh lulusan SMA, hanya 30 persen saja yang bisa kuliah. Ia juga menyampaikan kebanggaannya karena UMM merupakan salah satu perguruan tinggi terbaik di Jawa Timur. “UMM ini kampus kebanggaan warga Jatim,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor UMM Muhadjir Effendy mengangkat Gus Ipul, sebagai keluarga kehormatan UMM yang ditandai dengan penyematan jas almamater merah. Sebelumnya gelar yang sama juga pernah disematkan UMM pada Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Panglima TNI Moeldoko, ketua umum Palang Merah Indonesia Jusuf Kalla, dan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan pada kesempatan berbeda.     

Selepas upacara, para mahasiswa baru lantas berjalan menuju UMM Dome untuk mengikuti sesi lain yang dimulai dengan penampilan beberapa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan dilanjutkan dengan sambutan Rektor UMM Muhadjir Effendy serta Ketua Badan Pembina UMM HA Malik Fadjar. Kegiatan tersebut diakhiri dengan stadium general oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah KH Din Syamsuddin. 

 
KEGEMBIRAAN: Mahasiswa baru UMM melemparkan topi almamater ke udara.

Di awal paparannya Din sempat bertanya pada seluruh maba, berapa persen dari mereka yang Muhammadiyah dan berapa persen yang non-Muhammadiyah. Ternyata, sebagian besar mengaku bukan berasal dari Muhammadiyah.

 “Berdasarkan survei saya dari podium ini ternyata yang Muhammadiyah hanya 20 persen, sisanya 80 persen bukan Muhammadiyah. Ini adalah bukti, kualitas UMM sudah teruji, tidak hanya di kalangan Muhammadiyah. Bahkan saya dengar, tahun ini UMM menerima sekitar 70 mahasiswa asing. Ini luar biasa,” ujarnya.

Din juga menyebutkan, hal tersebut selaras dengan tagline UMM, yaitu jas merah kampus putih yang menunjukkan bahwa universitas ini merupakan bakti Muhammadiyah pada bangsa. Karena itu, lanjutnya, ciri kebangsaan ini harus bisa diwujudkan oleh mahasiswa UMM, di antaranya menjadi garda depan dalam menangkal hal-hal yang dapat merusak nasionalisme kita. 

 “Apalagi negara kita sempat diramaikan dengan fenomena Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Saya kira, posisi UMM sebagai kampus kebangsaan sangat tegas menolak hal-hal seperti,” tandas Din yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini penuh semangat. (han) (mac) 

 

Shared:
Shared:
1