Indonesia Ke Depan Harus Dijejali Dengan Nilai Agama yang Pro-Kemajuan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 07 Juni 2014 10:26 WIB

Surakarta - Membaca Indonesia dalam sketsa besar, dalam lensa yang luas, agar kita tidak melihat Indonesia dengan berbagai aspeknya ini dari satu sudut pandang, lebih-lebih pandangan yang sempit, karena ada perbedaan ketika kita melihat Indonesia dengan sketsa yang besar dengan perspektif yang besar atau luas, disbanding dengan satu sketsa saja. Lebih-lebih dalam suasana politik nasional, dihadapkan pada pilihan politik yang pasti, yang sarat akan kepentingan, lebih khusus lagi kepentingan sesaat. Hal itu disampaikan Ketua PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, ketika menyampaikan isi pokok pikiran Buku Indonesia Berkemajuan Rekonstruksi Kehidupan Kebangsaan yang Bermakna dalam Seminar Indonesia Berkemajuan, Rekonstruksi Kebangsaan yang Bermakna dan Maklumat Kebangsaan di Tanwir ‘Aisyiyah, Gedung Batari, Surakarta, Jumat kemarin (6/6).

“Bagi Muhammadiyah melihat sketsa yang besar ini sangat penting, karena Muhammadiyah maupun ‘Aisyiyah sebagai gerakan Islam, yang berusia satu abad, tentu selain memiliki sejarah yang cukup panjang, juga telah memiliki cara pandang dan posisi yang relatif mapan, sudah teruji dalam berbagai situasi politik  dan situasi nasional dalam dinamika sejarah yang begitu rupa,” ujar Haedar.

Cara memandang persoalan dengan sketsa yang besar, mendalam dan substantif, senapas dengan Islam sebagai ajaran yang kita yakini dan anut. “Konsep masyarakat Islam Berkemajuan tentunya harus memiliki nilai agama sebagai sumber berkemajuan, Indonesia ke depan harus terus dijejali dengan nilai-nilai keagamaan yang pro-kemajuan, hanya ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah yang punya kesempatan dan punya modal untuk itu,” kata Haedar.

Haedar menambahkan bahwa aktualisasi nilai-nilai agama ini harus diaktualisasikan dalam pranata-pranata sosial yang sudah terbangun dalam masyarakat Islam yang berkemajuan, “ ‘Aisyiyah telah memiliki Qoriyah Thoyyibah, Keluarga Sakinah. Muhammadiyah telah memiliki gerakan jamaah dakwah jamaah. Namun, aktualisasi ini tentunya memerlukan orientasi pimpinan yang pro-pergerakan, bukan alam pikiran birokrasi” tutupnya. (dzar)

 

Shared:
Shared:
1