Lazismu Gelar Nasional Zakat Meeting 2014 di Boyolali

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 05 Juni 2014 22:13 WIB

Boyolali - Bertempat di Hotel Horison Gambir Anom,  Jln. Raya Embakarsi Haji Gagaksipat Boyolali, LAZISMU menggelar National Zakat Meeting 2014 beberapa waktu lalu, Selasa – Kamis (27-29/5). Membahas tentang aspek penting dalam meningkatkan pelayanan zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Kualitas informasi program pemberdayaan dan penggalangan dana ZIS bagi LAZISMU didasarkan kepada sumber data dan informasi yang tepat. Sampai saat ini, salah satu persoalan yang dihadapi adalah terkait reinterpretasi tentang aspek kelembagaan paska di sahkannya PP Nomor 14 tahun 2014 tentang pelaksanaan Undang-Undang Pengelolaan Zakat. Sementara LAZISMU dan jejaring yang ada di seluruh Indonesia berupaya berbenah dengan konsep dasar keunggulan keunggulan (differensiasi) secara berjamaah.

Direktur utama LAZISMU, M. Khoirul Muttaqin mengatakan transformasi sosial yang kian ketat dan kompetitif, menuntut kami untuk memberikan sesuatu yang baru, segar, dan egaliter.  Namun, secara substansi nilai-nilai filantropi dan keberpihakan menjadi bagian dari kinerja-kinerja LAZISMU secara professional.

Selain itu, Direktur Fundraising LAZISMU, Nanang Q. el-Ghazal mengutarakan bahwa sasaran komunikasi awal ini yang dituju pertama kali adalah jejaring. Karena ini merupakan pintu masuk utama dalam komunikasi agar dapat diterima khalayak. Artinya bersama jejaring dan berjamaah LAZISMU memastikan langkah untuk tujuan utama yaitu menyatukan visi dan misi, tandasnya. Spirit kebersamaan dan kesetaraan tetap menjadi salah satu strategi komunikasi, hal ini selain mendorong potensi jejaring yang tumbuh dari bawah juga mampu menjangkau suara-suara kelompok atau komunitas antar personal dan kelembagaan sangat memengaruhi kegiatan secara kemitraan saat berada di panggung filantropi.

Sementara itu, praktisi komunikasi marketing, M. Arief Budiman mengatakan langkah rebranding yang dilakukan LAZISMU, selain menyegarkan performance juga memberikan pesan identitas visual (visual identity). “Hal ini bisa dilihat dalam system grafis sebagai representasi identitas yang dapat dikenali dari visual. Ke depan komunikasi visual ini akan beradaptasi dengan berbagai media terkait peluang dan tantangannya dalam berinteraksi dengan para komunikan filantropi,” tuturnya.

Oleh karena itu, cara pandang dan kesadaran yang sudah tertanam sampai saat ini perlu diinovasi bahwa dalam konteks berbagi mereka yang kelebihan harta sudah tidak lagi sebagai subjek terhadap kaum dhuafa yang berada sebagai objek. LAZISMU berupaya melakukan interaksi dengan pendekatan berjamaah. Begitu juga dengan mereka yang dhuafa, mengangkat mereka menjadi subjek adalah tugas kaum muslimin semua. Terutama dalam konteks ZIS kelompok lemah ini perlu didukung, difasilitasi dan dibantu dengan pendekatan humanis. Inilah tantangan kita semua. Bukankah kekuatan spiritual akan semakin kuat jika dorongan yang mengimpit menjadi daya gedor untuk bangkit, bangun dan menatap masa depan. (mona,Irma, dzar).

Shared:
Shared:
1