Abdul Mu’ti: Doa itu Tidak Boleh Dikomersilkan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 06 Januari 2014 09:19 WIB

 

Surabaya- Menanggapi fenomena doa berbayar yang terjadi di masyarakat, Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti menegaskan bahwa segala bentuk ibadah dilarang untuk dikomersilkan, untuk itu doa, haji badal atau segala ibadah yang berorientasi pada uang atau bisni adalah dilarang.

Hal tersebut disampaikan Abdul Mu’ti dalam pengajian Ahad pagi di Masjid Baitul Mukminin , Bharata Jaya, Surabaya, Jatim (5/1). Menurut Abdul Mu’ti, hal serupa (komersialisasi Ibadah) juga terjadi pada pemakaman, yakni dengan berbagai layanan yang dimulai dari merias jenazah, mencari lokasi makam, pengerahan pentakziah, sampai pendoa, yang kesemuanya terdapat tariff tertentu. Pada kasus Haji Badal menurut Abdul Mu’ti juga menjadi masalah pada saat berorientasi bisnis, karena pada beberapa kasus, seorang yang membadalkan Haji memberikan tariff dengan keuntungan tertentu dan melakukan hingga lima sampai sepuluh orang.

Pada sisi lain, Abdul Mu’ti yang juga dosen UIN Jakarta ini menjelaskan bahwa fenomena bisnis ibadah ini merupakan fenomena modern yang tidak hanya berlaku di agama Islam. Nabi Muhammad SAW menurut Abdul Mu’ti selalu mengajarkan agar manusia selalu seimbang dalam mendudukkan hal yang bersifat duniawi dan akherat, namun dunia yang dicari pun harus berdimensi akhirat. “Misalnya, mencari uang bukan semata harta, tapi untuk mencari ridha Allah, sehingga tidak menghalalkan segala cara. Jadi, orang Islam harus kaya, tapi kekayaan itu untuk beribadah," jelasnya. (mac)

Shared:
Shared:
1