LPCR Harus Berperan Sebagai Penyambung Dari Pusat Ke Cabang dan Ranting

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 01 Desember 2013 01:45 WIB

Yogyakarta - Kekuatan politik adalah kekuatan yang memepengaruhi mengambil kebijakan ex Amerika Yahudi komunitas kecil akan tetapi dapat luar biasa mempengaruhi pengambilan kebijakan Amerika. Presiden bisa dipilih karena lobi Yahudi. Semua peraturan Amerika patuh pada Israel Yahudi. Orang yang omongannya didengar adalah orang yang punya kekuatan politik. Muhammadiyah zaman dulu punya kekuatan politik luar biasa zaman mantan Presiden Soeharto semua organisasi pecah, kecuali Muhammadiyah, Soeharto takut pada Muhammadiyah. Muhammadiyah ketika itu punya kekuatan politik. Sekarang melemah. PP Muhammadiyah berkirim surat kepada Presiden SBY untuk menghadap, sampai saat ini belum dijawab. Hal itu disampaikan Bendahara Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Zamroni disela-sela rapat kordinasi percepatan program pengembagan cabang dan ranting yang diselenggarakan oleh LPCR PP Muhammadiyah di Aula PP Muhammadiyah Yogyakarta, Sabtu (30/11) kemarin.

Perubahan pola kepemimpinan Muhammadiyah yang tadinya berdasar sosiokultural lebih memperhatikan ke dalam warganya dan solidaritas tinggi tetapi seiring berjalannya waktu berubah menjadi birokratis rasional, melihat ke luar lupa yang dalam yang kecil-kecil. “Untuk kembali ke sosisokultural tidak mudah. LPCR harus berperan sehingga penyambung dari pusat ke Cabang dan ranting. Pusat tetap berkiprah seiring perkembangan zaman akan tetapitetap instruksi sampai ke bawah,”ujarnya.

“Kita hidup di zaman yang cepat berubah maka cabang dan ranting juga harus dipikirkan perubahannya. Ranting harus melayani jamaahnya, dan perlu dilayani oleh cabang. Melaui buku-buku terbitan LPCR maka pemberdayaan cabang dan ranting berjalan, Muhammadiyah kembali mempunyai kekuatan politik. Karena Muhammadiyah merupakan gerakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar,” tutupnya. (dzar)

Shared:
Shared:
1