Haedar Nashir: Sebaiknya Fokus Mencari Makna Idul Fitri, Bukan Berpolemik Awal Bulan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 05 Agustus 2013 20:43 WIB

Yogyakarta- Sebaiknya unsur Pemerintah, Ormas Islam, Lembaga Keilmuan, dan masyarakat fokus mencari makna bulan Ramadhan dan Idul Fitri untuk pencerahan diri, termasuk untuk mengurus bangsa dan negara dengan baik, dan bukan malah berpolemik dalam penetapan awal Bulan.

Hal tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir pada redaksi siang ini Senin (05/08/2013). Haedar Nashir menyayangkan banyaknya pihak yang masih berpolemik mengenai perbedaan dalam penetapan awal bulan Ramadhan maupun Syawal yang seharusnya bukan menjadi domain pemerintah. Banyaknya sikap dan pernyataan yang dirasa kurang etis dan tidak santun baik dari kalangan pemerintah dan atasnama lembaga keilmuan dalam menanggapi sikap dan posisi Muhammadiyah pada penatapan awal bulan menurut Haedar hanya akan merusak makna puasa dan Idul Fitri. “Jauhi sikap dan pernyataan yg sia – sia yang dapat merusak makna puasa dan idul fitri. Bersikaplah dewasa dan bijaksana termasuk dalam menyikapi ketidakhadiran Muhammadiyah dalam sidang itsbat,” ungkapnya.

Sementara itu pada sisi lain Haedar Nashir juga meminta para ilmuwan yg menguasai ilmu astronomi atau falak agar bersikap objektif dan profesional, serta belajar memahami realitas kebaragaman umat dalam menjalankan agama, jangan ikut-ikutan jadi partisan. Umat dan masyarakat di bawah insya Allah jauh lebih dewasa.

 

Mengejar Setoran

Menanggapi undangan Kementerian Agama RI untuk diskusi dan sarasehan mengenai penetapan Ramadhan dan Syawal, Haedar mengatakan perlunya waktu yang lebih baik agar lebih leluasa dan bukan malah seperti mengejar setoran. “Jika mau membahas dan mencari titik temu atas perbedaan penetapan Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha, lebih baik lakukan di waktu dan forum lain yang lebih leluasa, jangan seperti ingin ngejar setoran,” tegasnya. Sebelumnya diungkapkan bahwa Pemerintah melalui Kementerian Agama mengundang Muhammadiyah untuk membahas dan mencari titik temu mengenai penetapan awal bulan Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah.

Muhammadiyah melalui ketua PP Muhammadiyah Yunahar Ilyas menyatakan bahwa sebaiknya diskusi mengenai hisab rukyat tersebut diadakan jauh – jauh hari dan tidak dirangkai dengan sidang itsbat. Dengan demikian dipastikan Muhammadiyah tidak akan menghadiri undangan pemerintah tersebut. Wakil Sekretaris Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah Iwan Setiawan juga mengatakan, melihat dari pertemuan sebelumnya antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama yang sampai 3 kali dalam membahas titik temu penetapan awal bulan, diperlukan waktu yang lebih longgar. “Dari pertemuan terdahulu itu bisa diketahui bahwa, diskusi tidak bisa dipaksakan dalam limit waktu tertentu, karena banyak hal yang perlu dibicarakan,” tegasnya. (mac)

Shared:
Shared:
1