Gandeng Organisasi Keagamaan, Muhammadiyah Komitmen Turunkan Kematian Ibu Melahirkan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 04 Agustus 2013 14:51 WIB

Yogyakarta-Indonesia memiliki angka  kematian ibu (AKI) melahirkan 228 per 100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi (AKB) 34 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI, 2007). Target Millenium Development Goals (MDGs), yakni menurunkan (AKI) menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB menjadi 23 per 100.000 pada tahun 2015. Maka diperlukan kerja sama seluruh pihak termasuk keterlibatan dan tanggung-jawab masyarakat  dalam menurunkan angka kematian ini.

 

Hal tersebut disampaikan Siti Masyitah Rahma Project Manager Expanding Maternal Antenatal Survival (EMAS) kerjasama USAID dengan Muhammadiyah dalam acara Penandatanganan Kerjasama Jejaring Antar Agama Dalam Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir di gedung PP Muhammadiyah, Kamis (01/08/2013). Untuk itu menurut Masyitah, perlu kerjasama berbagai pihak dalam upaya mengurangi resiko kematian Ibu dan Anak dalam proses kelahirannya. Saat ini pada program EMAS, sedang difokuskan untuk pelatihan PONEK (Pelayanan Obstetri Neonatal Komprehensif), yang rencananya program tersebut dilaksanakan di sembilan provinsi (150 rumah sakit dan 300 Puskesmas) dimana angka kematian ibu dan bayinya tinggi. “DIY saat ini masih pada posisi yang tinggi pada kasus kematian Ibu pada saat melahirka, dalam semester awal tahun ini saja terdapat 25 kasus kematian Ibu akibat keterlambatan untuk dirujuk pada rumah sakit.

 

Sementara itu menurut Koordinator Tim Ahli Majelis Pembina Kesehatan Umum PP Muhammadiyahyang juga Ketua ARSANI (Asosiasi Rumah Sakit Badan Nirlaba Indonesia) M Natsir Nugroho, Rumah sakit tidak dapat sendirian dalam upaya menurunkan resiko kematian ibu dan anak pada saat proses melahirkan, sehingga perlu peran masyarakat dalam melakukan penyadaran pentingnya kesiapsiagaan. “Peran Masyarakat nantinya lebih pada kesiapsiagaan dalam upaya mermbawa Ibu yang akan melahirkan ke petugas kesehatan supaya bisa ditangani khusus dan tidak dibiarkan saja,” jelasnya. Untuk itu ARSANI menurut Natsir, akan mengajak peran serta jamaah-jamaah di organisasi Islam, Kristen dan Katolik untuk memberikan suatu pesan atau pembelajaran tentang ciri-ciri orang hamil berisiko tinggi. Yogyakarta akan dijadikan model awal yakni di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, RS Betehesda, RS. Panti Rapih dan RSU Bethesda Lempuyang Wangi. 

 

Pada acara penandatangan kerjasama tersebut dihadiri oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. DR. H. M Din Syamsudin, MA dan disaksikan pula oleh Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Dr. RA Arida Oetami M.Kes. Selain itu pula pada kesempatan ini hadir pula Mission Director USAID di Indonesia DR. Andrew Sisson Sworn yang sangat mengapresiasi inisiasi kerjasama antar organisasi keagamaan untuk berperan dalam menurunkan AKI dan AKB. (mac)

Shared:
Shared:
1