MPM Muhammadiyah- BATAN Kembangkan Varietas INPARI Sidenuk di Gowa

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 25 Juli 2013 07:51 WIB

Gowa-Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah melakukan panen perdana varietas INPARI Sidenuk  hasil kerjasama  Majelis Pembardayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN)  Pusat Kemitraan Teknologi Nuklir Serpong  di Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa, Sulsel, Sabtukemarin (20/7/2013).

SukriyantoAR, Ketua PP Muhammadiyah  dalam sambutannya usai panen sangat merespon kerjasama MPM Muhammadiyah Sulsel dengan  Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN).“Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan  produksi padi petani tapi sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dan semoga pengembangan varietas INPARI Sidenuk ini dapat disebarluaskan ke daerah-daerah lain di Sulsel,” ujarnya

Berbagai kegiatan panen di daerah yang menjadi binaan MPM Sulsel diantaranya ialah panen ikan di Pangkep, panen padi  di Bongaya, juga panen padi di Soppeng dan beberapa daerah lain.“MPM Sulsel telah banyak melakukan terobosan dalam membantu meningkatkan kesejahteraan petani.” Jelas Said Tuhuleley, Ketua MPM PP Muhammadiyah.

Sementara itu, Rismianto, sekaligus yang mewakili  BATAN, mengatakan, pengembangan varietas INPARI Sidenuk ini baru yang pertama kali dikembangkan di Sulawesi, yakni di Kec. Bontonompo, Kabupaten Gowa. Varietas Sidenuk ini  jenis varietas unggul dengan produksi bisa mencapai 9 ton per hectare. Sementara umur padi sawah Sidenuk ini hanya 103 hari. Banyak keunggulan dari varietas ini terutama tahan hama dan produksi tinggi.

Ketua MPM Sulsel Drs H Husni Yunus ketika dikonfirmasi menyebutkan, rencana pengembangan Varietas INPARI Sisenuk ini tidak hanya di Gowa, tapi juga diseluh kabupaten dan kota di Sulsel, khususnya lokasi-lokasi yang memang sudah menjadi lokasi binaan MPM Sulsel.

“Kita berharap dengan pengembangan varietas Sidenuk ini dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Selain itu varietas yang dikembangkan ini meniadakan  penggunaan pupuk kimia, tapi  menggunkan 100 persen pupuk organik,” jelas dosen Unismuh Makassarini.(dzar)

Shared:
Shared:
1