Pengajian Ramadhan PWM DIY: Tajdid Lintas Zaman Menuju Masyarakat yang Utama

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 19 Juli 2013 23:29 WIB

Yogyakarta -Dalam konsep gerakan Muhammadiyah, langkah menuju masyarakat utama melalui tajdid dan dakwah. Seiring perkembangan zaman, gerak tajdid lintas zaman pun dibutuhkan sebagai cara mewujudkan masyarakat utama.

Berkaitan dengan hal itu, “Tajdid Lintas Zaman Menuju Masyarakat yang Utama” adalah tema yang diambil Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai pijakan materi kajian pengajian Ramadhan 1434 Hijriyah pada (18-20/7/2013) di auditorium Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Kampus I Jl Kapas 9 Semaki Umbulharjo Yogyakarta.

Pengajian Ramadhan 1434 H PWM DIY akan diikuti 200 orang terdiri dari anggota PWM DIY, anggota majelis/lembaga di lingkungan PWM DIY, anggota PDM se-DIY, pimpinan ortom Muhammadiyah DIY, Rektor, Ketua, Wakil Rektor dan Wakil Ketua PTM di Yogyakarta,Direktur dan Wakil Direktur RS PKU Muhammadiyah se-DIY serta kepala sekolah Muhammadiyah se-Kota Yogyakarta.

Materi kajian meliputi Muhammadiyah dan persoalan umat, problem keberagamaan umat di tengah modernitas, reaktualisasi tajdid Muhammadiyah dalam menjawab persoalan umat, tajdid Muhammadiyah dalam menjawab persoalan umat tinjauan problematika fikih di masyarakat, kebijakan Muhammadiyah di tengah problem kebangsaan, sinergitas antarelemen gerakan antikorupsi dalam mencegah dan memberantas korupsi menuju masyarakat utama.

Adapun sebagai pembicara adalah dr H Agus Taufiqurrahman, MKes, SpS, Dr H Khoiruddin Bashori, Psi, MSi, Dr Mahli Zainuddin Tago, MSi, Dr Haedar Nashir, MSi, Prof Dr Syamsul Anwar, Dr Agung Danarta, MAg, Drs M Afnan Hadikusumo dan Dr Zaenal Arifin Mukhtar.

“Kami berupaya membentuk muslim yang utama menuju masyarakat yang utama,” kata dr H Agus Taufiqurrahman, MKes, SpS, Senin (15/7).

Menurut Ketua PWM DIY, masyarakat utama lebih dikenal dengan masyarakat yang menjunjung tinggi norma, nilai-nilai dan hokum yang ditopang oleh penguasaan teknologi yang beradab, iman dan ilmu. “Masyarakat semacam ini biasanya merujuk pada masyarakat Islam yang dibangun Nabi Muhammad SAW saat tinggal di Madinah,” kata Agus Taufiqurrahman.

Dikatakan Agus, terdapat proses yang mengantarkan terbentuknya masyarakat utama. Proses itu dimulai dari individu-individu yang saling berhubungan. “Jika hubungannya bersifat sementara, maka proses terbentuknya masyarakat utama tidak dapat berlangsung dengan baik,” tandas Agus.

Proses hubungan antarindividu, sebagaimana dikatakan Agus Taufiqurrahman, harus berjalan lama dalam sebuah wadah atau lingkungan yang menempatkan antarindividu berhubungan. “Oleh sebab itu, supaya terjadi masyarakat utama, hal penting yang perlu dilakukan adalah pembentukan individu yang utama,” katanya.

Sementara itu, Ketua Majelis Pendidikan Kader PWM DIY, Mufti Khakim, mengatakan,individu yang utama adalah individu yang memiliki kemampuan menjunjung tinggi norma, nilai-nilai dan hokum yang ditopang oleh penguasaan teknologi beradab, iman dan ilmu. (dzar)

 

Shared:
Shared:
1