Pimpinan Muhammadiyah Harus Memiliki Nawaitu yang Tinggi dan Akhlak Mulia

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 15 Juli 2013 22:10 WIB

Bantul - Nawaitu sebagai nilai dasar, Rasulullah menengaskan bahwa innama al a’mal bi al niyat. Jika nawaitunya tinggi (ridha Allah) maka ia mendapatkan nilai tinggi. Jika nawaituya rendah (ri-a an-nas) maka ia mendapatkan nilai rendah. Hal itu disampaikan oleh Prof. Yunan Yusuf , Ketua Tim Asistensi bendahara PP Muhammadiyah dalam pegajian Ramadhan PP Muhammadiyah Sabtu (13/7) kemarin.

Yunan menambahkan bahwa Pimpinan muhammadiyah apabila mengerjakan sesuatu implikasi dengan ridha Allah tidak boleh dengan sembrono, sekenanya, seenaknya,  acuh tak acuh, atau asal jadi, seenaknya saja, itu berarti nawaitunya belum benar.

Kita disindir dalam Al Quran dalam surat Al Baqarah ayat 264 tentang profil orang yang menghapus nilai kerjanya: “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat dan batu itu ditinggalkannya tanpa apa-apa.

Profil orang yang kosong nilainya disinggung Allah dalam Quran surat An Nur 39: “mereka yang ingkar itu, amal perbuatan mereka bagaikan fatamorgana di lembah padang pasir, orang yang kehausan mengiranya air, namun ketika ia mendatanginya ia tidak mendapatkan apa-apa.”

Yunan Yusuf menjelaskan pula mengenai perilaku akhlak mulia yakni bermuhammadiyah adalah beribadah, bekerja dengan semangat memberi, tidak semangat menerima, apalagi meminta, menjauhkan diri dari perbuatan korupsi dan kolusi serta praktek buruk lainnya, Hidup bertetangga dengan  non-muslim bersikap baik dan adil sesuai prinsip yang diajarkan islam, tidak mengejar-ngejar jabatan, tetapi jangan menghindar bila memperoleh amanah, mengembangkan disiplin tepat waktu yang sudah menjadi cirri khas dari etos kerja dan disiplin Muhammadiyah, terutama dalam mengindahkan waktu shalat dan menunaikan shalat jamaah. (dzar)

Shared:
Shared:
1