Refleksi Kebangkitan Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Ajang Muhasabah Diri

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 20 Juni 2013 22:11 WIB

Yogyakarta – Kebangkitan Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (GK HW) di masa kini dan yang akan datang berada pada zaman kemajuan teknologi terutama komunikasi dan informasi, zaman yang selalu berubah dengan cepat, yang kadang dengan pola diskontinyu (era global). Kembalinya kebaangkitan HW dalam kepanduan Muhammadiyah di mulai pada tahun 1420 Hijriyah atau sekitar tahun 1999 setelah tumbangnya era orde baru.

Tiga tahun sebelum dilaksanakannya Muktamar HW  I (Pertama) di Yogyakarta tahun 2005 dan Muktamar HW II (Kedua) di Jakarta, di akhir 2010 hingga saat ini HW terus meningkatkan kualitas organisasi dan pelatihan kepanduan dalam rangka menuju tujuan Muhammadiyah

Refleksi Kebangkitan GK HW merupakan ajang muhasabah, introspeksi, intiqad, seperti yang disampaikan Ketua Umum Kwatir Pusat Hizbul Wathan, H. Uun Harun Syamsudin kepada redaksi website muhammadiyah.or.id “Muhasabah terhadap diri kita, apa yang sudah dikerjakan, apakah sesuai dengan tuntunan, kemudian mengajak dan menarik generasi muda, untuk hakekatnya melaksanakan ajaran Islam melalui kepanduan. Mengupayakan hal-hal baru, walaupun diangkat dari hal-hal yang lama seperti yang sudah diadopsi oleh beberapa orang, seperti outbound” ujarnya dalam kesempatan Refleksi Kebangkitan HW di Aula PP Muhammadiyah Ahmad Dahlan 103 Yogyakarta, Rabu Malam kemarin (19/6).

Uun menambahkan saat ini PP Muhammadiyah sudah sangat mendukung berdirinya gerakan Kepanduan Hizbul Wathan untuk berdiri di wilayah-wilayah Muhammadiyah se Indonesia. “Menurut mantan menteri pendidikan dahulu, Yahya Muhaimin, kebangkitan HW ini merupakan memperkaya khazanah kepanduan di Indonesia, kalau hanya satu berarti tidak sesuai dengan tatanan negera kita ini, yakni demokrasi”. GK HW ingin berfastabiqul Khairat dengan kepanduan yang lain, HW merasa tidak akan cemas dan khawatir terhadap adanya isu UU kepramukaan dan kurikulum 2013 yang mewajibkan pramuka di sekolah-sekolah.

“HW atau kepanduan di sekolah Muhammadiyah sudah ada sejak dahulu, saat ini mungkin terlambat bagi pemerintah baru melaksanakannya di Kurikulum 2013” tambah Uun yang juga kader HW dari Tasikmalaya ini. (dzar)

Shared:
Shared:
1