Nasyiatul Aisyiyah: Banyak Parpol Masih Abaikan Kualitas Caleg Perempuan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 28 Mei 2013 14:00 WIB

Yogyakarta- Politik afirmatif yang telah diatur dalam UU no 21 tahun 2013 ternyata tidak mudah terealisir. Kesungguhan para pelaku utama politik seperti petinggi-petinggi partai untuk mengisi jajaran politik tersebut dengan kader-kader perempuan yang berkualitas masih lemah, dan cenderung memikirkan figur disbanding kualitas.

Demikian disampaikan ketua umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah Norma Sari saat ditemui redaksi website Muhammadiyah di gedung PP Muhammadiyah, Yogyakarta, Selasa (28/05/2013). "Mereka (Partai Politik) lebih memilih untuk mendudukkan kader-kader selebritis yang akan mendongkrak nama partai di publik, mereka rela mengorbankan kualitas demi nama partai," jelasnya.Menurut pengajar Universitas Ahmad Dahlan ini, para petinggi partai harus membuka diri dan sadar akan pentingnya peran mereka dalam menentukan nasib partai dan bangsa. Keberhasilan pembangunan bermuara dari kader partai yang duduk di jajaran strategis perpolitikan di Indonesia.Di sisi lain Norma mengungkapkan, suksesnya kuota 30 persen dalam politik memerlukan keterlibatan berbagai pihak, baik pemerintah, partai,dan maupun masyarakat luas. Untuk merubah pola politik yang tidak imbang, dibutuhkan komunikasi dan kerjasama yang sinergis antara ketiga elemen tersebut sehingga terwujud ruang politik yang ramah terhadap perempuan.

"Nasyiah Aisyiyah pun memiliki kepentingan dalam menggoalkan suksesnya politisi perempuan di dunia politik dengan mendudukkan kader-kader NA di jajaran strategis politik, karena beberapa pengamat menilau, keterlibatan perempuan di dunia politik bisa merealisasikan kesejahteraan perempuan dan anak," ungkapnya.Untuk mengisi kekosongan itu menurut Norma,Nasyiah menyiapkan bank-kader yang siap mengisi dan mewarnai politik Indonesia, baik untuk jajaran legislatif hingga eksekutif. Nasyiah terus menggembleng kader-kadernya untuk menjadi kader yang akan menjunjung nilai-nilai moral, keagamaan,dan ke-Indonesiaan.

Shared:
Shared:
1