Imam Besar Masjidil Haram Isi Pengajian Dosen-Karyawan UM Malang

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Rabu, 06 Juli 2011 10:53 WIB
Malang- Imam Besar Masjidil Haram Makah, Syeikh Saud Ibrahim Ash-Suraim, Sabtu (02/07) berkunjung ke kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ini bukan kunjungan pertama imam masjid pusat ibadah kaum muslim sedunia itu karena tahun-tahun sebelumnya imam-imam terdahulu juga singgah ke UMM, khususnya ke masjid AR Fahruddin.

Karena bertepatan dengan momentum acara pengajian bulanan UMM, Syeh Saud didapuk untuk berbicara di depan dosen dan karyawan sebelum nara sumber dari PP Muhammadiyah Dr Haedar Nashir. Rektor Dr Muhadjir Effendy memimpin acara yang dihadiri lebih dari 500 audiens di ruang teater UMM Dome itu.

Rektor menyatakan kunjungan sang imam merupakan sebuah kehormatan, untuk itu pihaknya menyampaikan rasa terima kasih. “Atas nama UMM saya mengucapkan terima kasih kepada Syekh Saud Ibrahim Al-Surain yang telah bersedia menjalin kerja sama yang lebih dekat dengan UMM,” ucap Muhadjir. Dia memperkenalkan kepada Syeh Saud mengenai UMM, capaian prestasi dan data jumlah dosen dan mahasiswanya.

Syeikh Saud mengaku sangat senang disambut begitu hangat oleh dosen dan karyawan UMM. Dalam ceramahnya, dia menyinggung soal nama yang digunakan universitas, yakni “Muhammadiyah”. Menurutnya, nama ini mengandung konsekuensi besar.
“Penisbatan nama Muhammad yang digunakan UMM, maka UMM harus memiliki tradisi yang berbeda dengan kampus lain karena penisbatan nama Muhammad merupakan sesuatu yang berbeda dan istimewa,” kata Syeh Saud.

Lebih lanjut, Imam Besar mengatakan, Allah mengutus Nabi Muhammad untuk kita ikuti. Untuk itu, menjadi tugas kita mengkontruksi semua hal yang ada dikampus ini untuk mengikuti keteladanan Nabi Muhammad. Siapa saja yang bergabung dikampus ini berarti meneladani dan menjunjung tinggi Nabi Muhammad. Siapa saja yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad tidak akan tersesat. Karena itu, ketika kita memilih Muhammad sebagai nama, maka kita harus melihat apakah ajarannya sudah sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad. Kita bisa menilai orang yang mengerti dan tidak mengerti, maka kita juga bisa membedakan orang-orang yang menisbatkan dan tidak menibatkan Nabi Muhammad.

“Maka anda (UMM, red.) mempunyai misi yang berbeda dari kampus lain, ” ungkap Syeh Saud.
Mendapatkan ceramah sang Imam, rektor mengajak kepada dosen dan karyawan UMM untuk lebih mendalami lagi ajaran-ajaran Rosulullah. Imam Besar telah mengingatkan bahwa nama Muhammadiyah membawa konsekuensi besar yang harus diemban setiap civitas akademika UMM. Belum tentu kita semua sadar akan konseksuensi itu. “Terima kasih Syeh Saud yang telah mengingatkan kita kembali akan hal itu,” ujar Muhadjir.  

Sementara itu, pengajian yang diisi oleh Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir berlangsung singkat. Haedar juga mengingatkan kepada yang hadir untuk menengok kembali nama Muhammadiyah. Nama Rosul dipilih karena bukan hanya mengajarkan kepada kita ibadah, tetapi sebagai tokoh yang lahir untuk membangun peradaban. Dalam Islam, aqidah selalu memiliki korelasi dengan muammalah, sehingga dapat membangun peradaban Islam.  

“Agama Islam adalah agama peradaban, agama yang akan berlaku sampai akhir zaman,” kata Haedar. Itulah sebabnya dia juga menekankan kepada kita untuk mengemban risalah Rosul.

Terkait dengan persiapan menyambut Ramadhan, Haedar mengajak umat Islam agar melaksanakannya dengan niat dan kesadaran. Dalam puasa, ada proses sublimasi, yakni suasana kebatinan dan ruhani yang siap melaksanakannya. Jika tidak, ibadah puasa hanya akan menjadi rutinitas kering yang datang secara rutin.(www.umm.ac.id)

Shared:
Shared:
1