Syafii Maarif: Tidak Boleh Ada Generasi Mengapung di Muhammadiyah

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 13 Mei 2013 11:44 WIB

 

Yogyakarta- Kader Muhammadiyah harus menungkik dan mendalam pada setiap kapasitas yang disandangnya, seandanya menjadi dokter, jadilah dokter yang tajam ilmunya dan bereputasi baik, seandainya menjadi pedagang jadilah pedagang yang mendalam baik secara ilmu maupun totalitasnya, begitu juga dengan menjadi politisi, maupun Mubaligh .

 

Demikian disampaikan penasihat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif dalam  presentasinya pada acara Political Gathering songsong Pemilu 2014; Membangun Etika Politik Dalam Ranah Publik oleh Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY bekerjasama dengan Program Doktor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Sabtu (11/05/2013).  Syafii Maarif yang juga matan ketua umum PP Muhammadiyah periode 1998 – 2005 mengingatkan agar para kader yang terjun di panggung politik agar mempelajari ilmunya secara utuh, karena selama ini Muhammadiyah memang tidak mendesain kadernya untuk menjadi kader politik. Fenomena sekarang ini menurut Buya Syafii, banyak para tokoh muda menjadi instant politician yang secara kultur politik belum tuntas pembelajarannya, sehingga para politisi tersebut tidak mempunyai visi dan juga ideology yang kuat kecuali hal yang berbau pragmatis. Buya menegaskan bahwa, kekuasaan tanpa visi adalah destruktif, dan dalam dunia politik yang sangat ganas, selain visi juga diperlukan mental yang kuat.

 

Sementara itu hal senada juga disampaikan Abdul Munir Mulkhan yang juga mantan wakil sekretaris PP Muhammadiyah periode Syafii Maarif, bahwa kaderisasi di Muhammadiyah tidak berbicara sama sekali kengenai politik, sehingga sesugguhnya para kader yang saat ini berada di senayan maupun pejabat publik lainnya mengolah sendiri kemampuan dan jaringan yang dipunyainya untuk dapat tampil di pentas politik. Muhammadiyah menurut Munir Mulkhan mempunyai problem ketauhidan pada konteks politik, karena selama ini warga Muhammadiyah masih menganggap orang yang membicarakan kebaikan diri di muka umum adalah bagian dari Riya’, padahal dalam dunia politik, untuk mengenalkan seorang calon pejabat publik baik legilatif maupun eksekutif agar dapat dipilih, harus mengenalkan secara detail termasuk keunggulannya disbanding calon lainnya.

 

Hadir dalam dalam acara Political Gathering tersebut, wakil Bupati Gunung Kidul, anggota DPD RI Afnan Hadikusumo, jajaran Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, jajaran pimpinan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, para anggota DPR dari unsur Muhammadiyah, dan para calon legislatif yang akan maju pada Pemilu 2014 mendatang yang juga dari unsur Muhammadiyah. 

Shared:
Shared:
1