Pameran Arsip, Bedah Buku, dan Penandatangan Perjanjian Kerjasama dengan ANRI

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 12 Februari 2013 07:20 WIB

Muhammadiyah yang didirikan oleh KHA Dahlan lebih dari seabad yang lalu, telah mengalami perjalanan sejarah yang panjang. Tentu saja jejak yang ditinggalkannya sangat banyak dan beragam. Muhammadiyah yang didirikan dari sebuah kampung di Kota Yogyakarta dalam waktu 100 tahun mampu mengepakkan sayapnya di seluruh bumi Nusantara bahkan sampai ke beberapa negara. Dan yang paling penting adalah Muhammadiyah telah mampu menunjukkan eksistensinya sebagai sebuah organisasi yang memiliki kemampuan untuk bertahan menghadapi zaman. Bukan hanya Muhammadiyah, namun organisasi otonomnya juga telah banyak menorehkan catatan penting dalam sejarah. Torehan tersebut dapatlah dicatat diantaranya KHA Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan adalah sepasang suami istri yang diakui sebagai Pahlawan Nasional, artinya kontribusi beliau berdua diakui oleh negara telah memberi sumbangsih pada negeri ini. ‘Aisyiyah adalah satu-satunya organisasi yang menginisiasi Konggres Wanita 1928 yang masih eksis sampai saat ini. Belum lagi tokoh-tokohnya yang juga diakui sebagai tokoh nasional seperti Ki Bagus Hadikusumo, Mas Mansyur, AR Fachrudin, Baroroh Baried, Chamamah Soeratno,  Amien Rais, Syafii Ma’arif, sampai Din Syamsuddin. Kontribusi ini tentunya menjadikan Muhammadiyah ‘sesuatu’ yang patut diperhitungkan dalam kancah perjalanan negeri ini.

Memasuki abad kedua ini banyak hal yang harus dilakukan oleh Muhammadiyah, bukan hanya berkaitan dengan revitalisasi gerakan al maun yang menjadi ciri khasnya, atau optimalisasai gerakan jama’ah dakwah jama’ah, atau memaksimalkan gerakan cabang dan ranting sebagai ujung tombak persyarikatan, maupun upaya untuk mendokumentasikan tapak jejaknya di masa lamau sehingga catatan sejarah ini tidak hilang oleh waktu atau generasi yang akan datang kehilangan rekan jejak sejarah Muhammadiyah. Inilah yang menjadi pemikiran untuk mulai mengumpulkan puzzle-puzzle sejarah untuk merangkainya menjadi sebuah catatan nyata yang bisa dibaca dan dinikmati oleh siapa saja. Menjalin kerjasama dengan Arsip Nasional RI menjadi salah satu solusi yang kemudian diambil secara cerdas oleh Muhammadiyah dengan menggandeng lembaga negara untuk membantu merangkai puzzle sejarah perkembangannya.

Setelah dimulai pada tanggal 18 November 2012 yang lalu, maka saat ini tanggal 12 Februari 2013 Nota Kesepahaman ini akan diterjemahkan dalam bentuk yang lebih aplikatif yang terbingkai dalam Perjanjian Kerjasama. Dalam kesempatan ini juga akan dilaksanakan kegiatan Pameran Arsip dimana akan dipamerkan arsip-arsip Muhammadiyah yang ada di ANRI untuk disajikan kepada khalayak umum. Kita dapat melihat beragam surat keputusan yang dibuat pada tahun 1950-an tentang pendirian Muhammadiyah di beberapa daerah yang menjadi tonggak awal kiprah Muhammadiyah di berbagai jengkal tanah ini. Ada juga pengakuan pimpinan tertinggi negeri ini yang meneguhkan posisi Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi yang peranannya diakui dan diperhitungkan. Arsip-arsip ini akan dipamerkan sebagai bagian upaya menyusun sejarah perkembangan Muhammadiyah di Indonesia.

Selain kegiatan tersebut, ada Bedah Buku “Muhammadiyah Di hadapan Saksi Sejarah” yang merupakan kumpulan tulisan tokoh-tokoh bangsa ini tentang Muhammadiyah, yang akan dibedah oleh penyusunnya, Drs.Imron Nasri, dan sejarawan UGM, Dr. Nur ‘Aini Setyawati.

Seluruh rangkaian ini akan dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 12 Februari 2013 mulai 14.00 WIB di Kantor PP Muhammadiyah, Jl. Cik Di Tiro 23 Yogyakarta, dan akan dihadiri oleh Kepala ANRI dan beberapa pejabat teras ANRI serta Pimpinan Pusat Muhammadiyah. (Release MPI)

Shared:
Shared:
1