Mengenang Bapak Wujudul Hilal Indonesia

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 14 Januari 2013 16:34 WIB

Mustofa B. Nahrawardaya

 

 

Jakarta - Sehari sebelum wafatnya Dr. Abdul Fatah Wibisono, MA, tepatnya Sabtu, 12 Januari 2013, saya memberitahu Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Din Syamsuddin. Melalui pesan BBM (Blackberry Messenger), saya kirim informasi bahwa pada hari itu, tokoh Muhamammadiyah yang dikenal sebagai ahli Wujudul Hilal itu, sedang milad yang ke-55. Mendengar informasi saya, Din Syamsuddin pun minta saya dan segenap warga Muhammadiyah untuk mendoakannya. Sudah biasa di tradisi kami, apabila ada yang ulangtahun, kami saling mendoakan satu sama lain. Bukan dengan perayaan tiup lilin.

Pada hari yang sama, saya mendapat kabar dari Prof. Dr. Suyatno, M.Pd (Rektor Universitas Prof. Dr. HAMKA/UHAMKA), bahwa Ki Fatah--panggilan akrab Dr. Abdul Fatah Wubisono, MA, pada saat itu sedang pada kondisi kritis di ICCU Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ). Untuk memastikannya, saya coba menelepon beberapa kali ke tim dokter di ruang perawatan, dan memang dibenarkan bahwa Ki Fatah sedang mengalami kondisi kritis setelah hampir 3 bulan dirawat maksimal di RS.

Dari beberapa nomor HP saya, SMS dan pesan BBM ternyata mulai berjejal memberitahukan kondisi kritis Ki Fatah, dan sebagian banyak berisi ajakan berdoa untuk kesembuhan beliau. Hari itu memang di antara kami yang ada di Muhammadiyah langsung saling komunikasi terkait kondisi kesehatan Ki Fatah yang kritis. Ketua Umum PP Muhammadiyah yang sedang menggelar pengajian rutin di rumah Margasatwa pun, akhirnya mengajak seluruh jamaah pengajian untuk mendoakan kesembuhan Ki Fatah.

Usai pengajian, Prof. Din Syamsuddin pun mengajak saya untuk segera mengunjungi Ki Fatah, sekitar pukul 01.30 dinihari. Di tengah hujan yang mengguyur Jakarta, kami memutuskan untuk membezuk ke ruang ICCU dan mendoakan langsung Ki Fatah. Sekitar 30 menit, kami berdua mendoakan langsung di samping tubuh Ki Fatah yang sudah terbaring dengan balutan banyak selang medis. Saat itu, saya lihat tubuh Ki Fatah sudah memucat, dan mata beliau sudah tertutup rapat. Dengan
bantuan alat dan obat pemicu jantung terbaik, Ki Fatah masih tampak bernafas, meski terlihat lemah dan tidak menunjukkan geliat sedikit pun.

"Laa yurjaa lahu," ucap Prof. Din kepada saya, setelah menutup doanya. Sepertinya tidak harapan lagi. Kira-kira begitulah terjemahan dalam Bahasa Indonesia-nya.

Usai mendoakan dan menemui dokter serta perawat di ruang ICCU, Prof. Din tergopoh-gopoh menemui isteri Ki Fatah yang ada di Ruang Muzdalifah. Kepadanya, disampaikan banyak pesan kesabaran, dan agar siap-siap menerima apa pun apabila terjadi sesuatu pada diri Ki Fatah. Din juga berpesan kepada semua anak-anak agar selalu berdoa untuk kebaikan Ayahandanya itu. Dinihari jelang subuh tersebut, Din sebenarnya sudah pamit kepada isteri Ki Fatah, karena akan ada konferensi di Hensinki, Finlandia pada sore harinya. Sehingga, harus sia-siap terlebih dahulu di rumah Margasatwa.

Karena banyak agenda pagi itu, maka nyaris kami tidak tidur. Din sendiri, sebelum ke Finlandia, usai menjenguk Ki Fatah, berencana akan terlebih dahulu menghadiri undangan pernikahan keluarga pemilik RM Ayam Taliwang di Jakarta.

Namun, pagi itu habis subuh, telepon saya berdering. Isinya, memberitahukan bahwa Ki Fatah baru saja wafat. Innalillahi wainnailaihiraaji’uun. Tepat sehari setelah milad kelahirannya yang ke-55, Dr. Abdul Fatah Wibisono yang lahir pada 12 Januari 1958, pagi subuh itu meninggalkan kita semua.

Tak jadi tidur, akhirnya pagi itu kami kembali ke RSIJ. Setelah menshalatkan jenazah sekitar pukul 08.30, kami semua melepas Ki Fatah yang akan diterbangkan ke Lamongan menggunakan Lion Air pukul 11.00 WIB. Tampak dalam pelepasan jenazah, mantan Wapres Jusuf Kalla, mantan MenkumHAM Patrialis Akbar, mantan Mendiknas Malik Fajar, Wakil Ketua MPR RI Hadjrianto Y Thohari, mantan Wagub DKI Prijanto, Civitas Akademika UIN, UHAMKA, UMJ dan sejumlah Pengurus PP
Muhammadiyah serta ratusan takziyah yang memenuhi Masjid RSIJ. Pagi yang sangat mengharukan, kami semua melepas jenazah Ki Fatah Wibisono untuk selama-lamanya.

Sekadar diketahui, Ki Fatah adalah guru saya. Banyak ilmu yang saya dapat dari beliau, meskipun perjumpaan kami tidak terlalu sering karena kesibukan masing-masing. Meski di kantor PP Muhammadiyah hanya terpaut satu lantai, namun kami berdua tidak sering bertemu. Kami berhubungan melalui email, SMS dan telepon jika ada sesuatu yang ingin saya tanyakan. Karena kami sama-sama dari Jawa, maka hampir setiap perbincangan, kami selalu memakai Bahasa Jawa pada kondisi tertentu. Candaan-candaan saya dan beliau, sering menggunakan Bahasa Jawa. Maka dari itu, ketika saya membezuk beliau sebulan sebelum wafatnya, kami masih saling tertawa dan sempat dicandaiin oleh isteri almarhum.

“Ah, ini kebiasaan. Meski sakit seperti ini, kok masih bisa tertawa ngakak seperti itu,” ujar isteri almarhum.

Kami saling akrab dan saling berdiskusi panjang, bisa bermalam-malam, apabila menjelang awal dan akhir Ramadhan. Pasalnya, almarhum semasa hidupnya memang dikenal sebagai Ahli Wujudul Hilal di Muhammadiyah. Kegigihan Ki Fatah atas cara penentuan Hari Besar Umat Islam yang sering bergesekan dengan pemerintah maupun Nahdhatul Ulama, menjadikan beliau banyak dikenal sebagai Bapak Wujudul Hilal, terutama setelah banyak tampil di media televisi. Setiap awal dan akhir Ramadhan, Ki Fatah selalu menjadi salahsatu narasumber metode hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah untuk menentukan awal dan akhir Ramadhan. Di Sidang Isbat, Ki Fatah adalah sebagai wakil dari Muhammadiyah.

Pemirsa televisi Insya Allah masih ingat ketika Prof. Dr. Thomas Djamaluddin (Profesor Riset Astronomi Astrofisika, LAPAN) berseteru dengan Ki Fatah menjelang saat Sidang Isbat pada 29 Agustus 2011 (29 Ramadhan 1432 H) di media massa. Pada saat Sidang Isbat, Ki Fatah mengatakan dengan terus terang bahwa dirinya mengeluh dan tidak bisa menerima begitu saja perkataan Prof. Dr. Thomas Djamaluddin yang dianggapnya kasar di televisi yang mengatakan metode Hisab yang dilakukan Muhammadiyah sudah usang. Oleh karenanya, beliau mohon izin kepada Menteri Agama, bahwa Muhammadiyah akan melakukan Idul Fitri mendahului pemerintah. Alhasil, pada tahun 2012 silam, Muhammadiyah pun tidak ikut Sidang Isbat yang diselenggarakan Kementerian Agama Republik Indonesia. Hal itulah yang menurut saya sebagai akhir dari perdebatan panjang soal metode penentuan awal dan akhir Ramadhan. Menjelang akhir hayatnya, almarhum bahkan masih berjuang keras untuk itu. Belum lama ini, Ki Fatah juga mengundang Thomas Djamaluddin ke UHAMKA, untuk mengajak diskusi soal penentuan awal-akhir Ramadhan tersebut. Saya diundang khusus untuk hadir oleh Ki Fatah.

Tidak hanya soal penentuan awal akhir Ramadhan, ketika Muhammadiyah dan banyak Ormas Islam melayangkan Judicial Review atas UU Migas, Ki Fatah termasuk sebagai pelopor terkemuka dalam gerakan ini. Sayangnya, kondisi kesehatan beliau menurun drastis, sehingga tidak bisa mendampingi hingga kepada akhir perjuangan berat ini. Tak bisa dipungkiri, jabatan sebagai Ketua Hukum dan HAM PP Muhammadiyah, benar-benar membuat hidup beliau dihabiskan untuk mengurusi umat dan memperjuangakan hajat hidup orang banyak, bahkan hingga akhir hayatnya.

Selamat jalan Bapak Wujudul Hilal Indonesia!

Salam

*) Mustofa B. Nahrawardaya, Aktifis Muda Muhammadiyah

 

diposting oleh Roni Tabroni

 

catatan: Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Kolom www.detik.com

Shared:
Shared:
1