Eratkan Hubungan Bersama Muhammadiyah, Turki Jajaki Kerjasama dengan UMM

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 14 Januari 2013 04:14 WIB

 

Malang- Hubungan Turki dengan Muhammadiyah telah terjalin sejak lama. Bahkan antara Kedutaan Turki di Jakarta dengan ketua umum PP Muhammadiyah, Din Syamsudin, terjalin sangat akrab. Hal itu membuat rasa penasaran, Director of Fethulla Gulen Chair, Dr Ali Unsal, untuk melihat secara langsung salah satu kampus milik Muhammadiyah yang sering didengarnya lewat Din.

Rasa penasaran itu terobati ketika Unsal mengunjungi kampusUniversitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (9/1). Bersama tiga orang stafnya, Unsal berdialog dengan Kepala Biro Kerjasama Luar Negeri (BKLN) UMM, Abdul Haris, dan beberapa dosen FAI.  

“Sudah lama saya mendengar nama UMM dari pak Din, baru kali ini saya betul-betul kagum, ternyata kampusnya indah dan besar,” puji Unsal sebelum memulai mengenalkan sosok Fethullah Gulen sang tokoh perubahan di Turki yang mewarnai keislaman masyarakatnya.

Gulen, kata Unsal, adalah tokoh dari Turki yang sangat berperan besar di dunia Islam. Di Turki yang dikenal sekuler, Gulen berhasil merubah pandangan mengenai pendidikan Islam, kejujuran, kesederhanaan, serta keadilan.

Gulen memiliki perhatian yang besar pada generasi Islam di masa datang. “Beliau selalu mengingatkan kepada kita, peliharalah generasi penerus,” kata Unsal. Oleh karena peranannya yang sangat besar itulah dia ingin memperkenalkan tokoh itu menjadi tokoh Islam dunia.

Dosen FAI, Nur Hakim, berkomentar ketokohan Gulen sepertinya mirip dengan peran KH Ahmad Dahlan dalam menggerakkan Muhammadiyah. Melalui gerakan sosial, Dahlan berhasil merubah masyarakat yang tradisionalis menjadi berfikiran maju dan selalu merujuk kepada Quran dan Assunah. “Barangkali asketisme Gulen serta filantropinya menyerupai Kyai Dahlan di Muhammadiyah,” kata Hakim.

Selain mengenalkan sosok Gulen, Unsal juga ingin menjajaki kerjasama dengan UMM. Pihaknya menyiapkan diri untuk membantu UMM jika memiliki kesempatan ke Turki.

Salah satu peserta diskusi yang pernah memperoleh beasiswa pertukaran dosen di Turki, Nasrullah, mengungkapkan pengalamannya bertemu direktur PASIAD di Istanbul yang menawarkan kerjasama. PASIAD adalah LSM Turki terbesar yang bergerak di bidang bidang sosial dan memiliki hubungan sangat baik dengan Indonesia. Beberapa sekolah PASIAD dirikan di Indonesia. Melalui Gulen Chair, Unsal memiliki peran di PASIAD sehingga diharapkan dapat mempererat hubungan Turki dengan UMM.

“Saya kira akan menarik jika Turki bisa membantu menyediakan buku-buku, guru bahasa, maupun program pertukaran dosen atau mahasiswa sebagaimana yang sudah dimiliki di UMM, yakni American Corner dan Iran Corner,” ujar Nasrullah.

Unsal menyatakan pihaknya siap jika UMM menghendaki mendirikan Pusat Kajian Turki (Turkey Corner) sebagaimana Iran dan American Corner yang sudah ada. Namun untuk menuju ke tahap itu diperlukan persiapan yang matang dan perlu waktu lebih dari satu semester. “Yang bisa kita lakukan secepatnya adalah kami akan mengirimkan buku-buku berbahasa Inggris dan Arab mengenai ilmu-ilmu Islam dan ilmu lainnya yang dilahirkan oleh ilmuwan Turki,” kata Unsal.   

Buku-buku Islam dan kajian sosial politik di Turki sangat banyak. Hal ini, kata Unsal, merupakan tradisi yang ditinggalkan Dinasti Usmani berupa manuskrip-manuskrip yang tersimpan baik di beberapa Istana di sana. “Kami memiliki jutaan manuskrip kuno di sana. Semuanya merupakan pemikiran-pemikiran Islam pada jamannya yang dapat dikaji di sini,” kata Unsal.

Haris berharap Hubungan Turki-UMM akan semakin baik nantinya.“Turki tidak bisa dilupakan dalam pergerakan perjalanan Islam. Mudah-mudahan acara ini menjadi pintu pembuka kerjasama UMM dengan Turki sehingga bisa memperkaya pengajaran tentang Islam,” harap Haris sembari menutup dialog.

Shared:
Shared:
1