Hasil Riset Acicis-UMM Dipresentasikan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 18 Desember 2012 20:14 WIB

 

Malang - Hari ini 11 mahasiswa Australian Consortium for In-Country Indonesian Studies (ACICIS) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mempresentasikan final report penelitiannya. Peserta ACICIS angkatan 35 itu memaparkan hasil penelitian yang dilakukan atas bimbingan dosen UMM selama satu semester terakhir. Presentasi dibagi menjadi dua hari, hingga besok (18/12).

Dalam final report hari ini terdapat 5 mahasiswa dengan  topik yang berbeda-beda. Jade Sciberras mengangkat judul penelitian “Pemulihan dan Reintegrasi Sosial: Membantu Korban Perdagangan (trafficking) Perempuan dan Anak” yang dilakukan di Magelang.

Dalam laporannya, Jade menggambarkan tentang kondisi sosial yang dialami oleh perempuan dan anak-anak sebagai korban trafficking. Dia menyarankan beberapa langkah untuk menghindari atau mencegah terjadinya trafficking. Pertama, pendidikan seks di sekolah. Kedua, pendidikan trafficking di pedesaan. Ketiga, media massa menjaga identitas korban trafficking dan lebih memperbanyak Pusat Pelayanan Terpadu (PPT).

Ditambahkannya, di Indonesia terdapat dua sistem trafficking yaitu trafficking pernikahan dan sistem ijon dimana orang akan datang ke pedesaan untuk membeli anak tanpa diketahui oleh orang tua bahwa anaknya akan diperdagangkan karena iming-iming uang.

Selanjutnya, Thomas Power menyampaikan hasil penelitian “Politik Pragmatis Dalam Partai Islam:Analisa Program,  Strategi, Pencitraan dan Performa electoral Partai Keadilan Sejahtera di Kota Malang”. Tom, demikian panggilan akrabnya, termasuk mahasiswa yang paling fasih berbahasa Indonesia. Maklum saja, sebelum bergabung dengan Acicis, dia pernah tinggal beberapa tahun di Semarang.

Tom menyoroti lingkungan politik, strategi politik, program dan performa electoral PKS di Kota Malang. Dia terjun langsung ke lapangan umtuk mengumpulkan data langsung dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Malang, wawancara dengan pimpinan dan pengurus PKS Kota Malang serta pengamat politik. Menurut penelitiannya, para pemilih PKS memiliki sifat loyality yang tinggi dimana masih berusia muda, terdidik dan berada di kalangan menengah ke atas yang menjalankan PKS yang berplatform bersih, peduli dan profesional. “Namun hal ini masih terkendala karena tidak semua pemilih di Indonesia memilih berdasarkan platform partai sehingga PKS harus bisa berevolusi untuk merubah watak partai menjadi catch-all (merangkul semua massa),” terangnya.

 Penelitian Mitch Cooper dengan judul “Pencak Silat dan Persaudaraan Setia Hati Terate:Filsafat, latihan dan perkembangan Spiritualis” menarik perhatian. Aspek-aspek mistis di balik kemampuan silat seseorang ternyata diperolehnya secara unik. Hanya saja, Mitch tidak mau terlalu jauh meneliti konflik antar kelompok silat yang kerap terjadi di antara dua kelompok Setia Hati. “Saya memang tidak meneliti konfliknya,” kilahnya ketika ditanya soal apa penyebab konflik itu.

Sementara itu, Hayley Wood dengan judul penelitian “Kompilasi Sinkretisasi, Tradisi Mistis dan Agama Islam dalam Masyarakat Modern di Kabupaten Banyuwangi” juga menarik. Selama 5 bulan Wood mendalami masyarakat Banyuwangi sehingga memperoleh data yang menarik. Pembimbing Dr A Habib yang juga asli Banyuwangi dinilai memiliki peran besar mengarahkan penelitian Wood.

Presenter terakhir hari ini, Nathan Dyson dengan judul penelitian “Komunitas Atheis di Jawa”. Mahasiswa dan undangan prsentasi dibuat terkejut terhadap berdirinya komunitas yang sudah relatif eksis ini. Dalam komunitas maya, malahan anggotanya sudah mencapai lebih 2000 orang. Namun demikian, masalah selalu timbul terkait dengan legalitas status mereka sebab di Indonesia ateisme tidak dikenal dalam catatan identitas seseorang.

Facebook, twitter, blog dan jejaring sosial lainnya menjadi sarana untuk mempertemukan komunitas Atheis di Jawa sekaligus membuka serta memperluas jaringan antar komunitas atheis diwilayah lain. Aktivitas yang dilakukan komunitas ini antara lain diskusi, gathering, menonton film dan pertemuan ilmu pengetahuan.

Ada beberapa jenis atheis, yakni atheis aktif, pasif, militan dan radikal. “Penyebab seseorang atheis karena latar sejarah, ilmu pengetahuan, pe,ikiran kritis dan tidak menyukai aspek agama tertentu,” terang Nathan.

Koordinator Acicis UMM, Widiya Yutanti, MA, mengaku ikut senang akhirnya mahasiswa menyelesaikan risetnya secara tepat waktu. “Selama melakukan studi di UMM mahasiswa ACICIS mengalami beberapa tahap yaitu bimbingan, submission, progress report dan final report,” terang Widiya.

Resident Director ACICIS, Philip King, menganggap topik yang diangkat dan diteliti oleh mahasiswa ACICIS sangat menarik dan variatif mulai dari topik perdagangan manusia, politik, pencak silat hingga ateisme. “Semoga dapat memberikan sumbangsih bagi dunia riset Indonesia khususnya UMM,” kata Philip. (mal/riz/nas)

Shared:
Shared:
1