UMM Bedah Rumah Janda Miskin di Ponorogo

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 06 Juni 2011 16:03 WIB

Prihatin dengan konsisi masyarakat di Kabupaten Ponorogo, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terpanggil untuk mengambil peran. Di beberapa desa di sana, terjadi kemiskinan ‘absolut’ dan keterbelakangan mental akibat kekuarangan gizi, serta angka anak-anak putus sekolah yang cukup memprihatinkan. Media massa telah banyak mengekspos kondisi ini, berbagai pihakpun telah melakukan upaya pengentasan, termasuk masyarakat, pemerintah setempat hingga partai politik.

Program Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UMM memfokuskan pada beberapa titik yang dipandang cukup urgen mendapatkan penaganganan. Salah satunya di dusun Sidowayah, desa Sidoharjo, kecamatan Jambon, kabupaten Ponorogo. “Di sana terdapat beberapa keluarga dengan anggota yang mengalami cacat mental, tidak mampu lagi bekerja, bahkan rumahnya roboh tanpa bisa berbuat apapun. Mbah Kunthing, salah satu warga di sana, dua anaknya mengalami masalah. Satu orang hilang ingatan, satu orang lainnya idiot. Tak hanya itu, rumah mbah Kunthing telah roboh, rata dengan tanah,” kata Direktur DPPM UMM, Prof Dr Bambang Widagdo, MM.


Bersama-sama masyarakat setempat, tim DPPM UMM melakukan peninjauan dan pembenahan atas rumah tersebut. Aksi yang diambil adalah sebuah program ‘bedah rumah’. Rumah mbah Kunthing dirobohkan dan dibangun kembali atas biaya UMM. Rumah seluas 4,5 x 8 meter itupun kini sudah berdiri kokoh layak huni, lengkap beserta isinya.

“Kami membangunnya dengan perhitungan layak huni, dan pertimbangan aspek fungsional sebagai rumah sehat, estetik dengan bahan yang banyak tersedia di lokasi sekitar,” terang anggota Tim Bedah Rumah, Dr. Adi Sutatanto, MP. Pertimbangan itu untuk mendidik masyarakat sekitar agar bisa melakukan hal yang sama tanpa kesulitan bahan dan cara pembuatannya.

Tak hanya itu, UMM juga membantu masyarakat tetangga mbah Kunthing dengan 75 paket sembako, pemeriksaan dan pengobatan gratis, penataan kebersihan lingkungan dan menyerahkan 10 ekor kambing betina siap kawin. Kambing-kambing itu diserahkan kepada kelompok yang bernama “Forum Sidowayah Bangkit”. Melalui koordinasi mereka, binatang ternak itu diberikan dengan model “akon-akon”, dimana kepemilikannya akan bergulir setiap dua kali kelahiran. “Ini akan membantu masyarakat setempat belajar mengembangkan sendiri potensinya sebagai peternak,” lanjut Adi.

Sementara itu, acara penyerahan rumah bantuan UMM kepada mbah Kunthi akan berlangsung Minggu (5/6) siang di desa Sidoharjo. Rencananya, bupati dan Muspika Ponorogo, akan hadir dalam acara tersebut. Begitu juga tokoh masyarakat dan kepala desa setempat juga akan ambil bagian dalam acara yang dikelola masyarakat setempat dengan biaya UMM itu.

Bambang Widagdo menjelaskan, niat membantu masyarakat Ponorogo muncul ketika media massa gencar memberitakan tentang penderitaan seorang warga bernama mbah Temu. Melalui Program  Pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), UMM sebenarnya mau membedah rumah tersebut. Tetapi di tengah perjalanan peran itu diambil oleh sebuah partai politik. Program itu tetap berlanjut dan tim UMM menelusuri warga lain yang mengalami nasib serupa. Dan, ternyata menemukan orang yang lebih menderita, yakni seorang janda, mbah Kunthing itu.
Dengan cepat UMM mengambil langkah untuk menyelematkan mbah Kunthing dengan membangun rumahnya. Masyarakat sekitar yang sejak semula memang sudah sangat peduli dengan nasib tukang pijat itu sangat mendukung dan bahu membahu membangun rumahnya.

“Kami tak ingin berhenti sampai di sini. Nanti kita juga akan kirim mahasiswa KKN untuk membantu masyarakat dalam menata lingkungan, pendidikan, dan ekonomi. Kami akan dampingi semampu kami,” kata Bambang. (umm.ac.id)

Shared:
Shared:
1