Azyumardi Azra : IRCM Jadi Konferensi Peneliti Terbesar

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 03 Desember 2012 11:15 WIB

 

Malang- Ketua Steering Committee (SC) International Research Conference on Muhammadiyah (IRCM), Prof Dr Azyumardi Azra, mengatakan IRCM merupakan konferensi science non-politik terbesar. “Bukan hanya di Indonesia, mungkin juga di dunia,” kata mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah ini.

Ungkapan Azra merujuk pada pembicara dan peserta yang merupakan representasi dari berbagai negara di dunia. Setidaknya, ada pakar dari Australia, Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Belanda, Singapura, Thailand, dan tentu Indonesia. Hal itu dikemukakan ketika memberi sambutan dalam acara pembukaan IRCM yang berlangsung di ruang teater, UMM Dome, Kamis (29/11).

Hadir dalam pembukaan, Gubernur Jawa Timur Dr. Soekarwo, ketua umum PP Muhammadiyah, Prof Dr Din Syamsuddin, mantan ketua PP Muhammadiyah, Prof Dr Syafii Maarif. Selain itu, acara juga disaksikan oleh Konjen AS di Surabaya, Konjen China di Surabaya, perwakilan kedutaan Australia, serta Deputi Menteri Pendidikan Thailand, serta para rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM).

Soekarwo berharap IRCM dapat memberikan ide-ide yang positif bagi para peserta dan Muhammadiyah. Selain itu, atmosfir Malang dan Jawa Timur diharapkan memberikan pengaruih yang baik kepada semua yang hadir. “Mudah-mudahan acara ini memberikan kesan dan memori yang Indah dan ada cerita tentang Jawa Timur yang dibawa ketika pulang nanti”, ucapnya.

Konferensi berlangsung selama empat hari hingga Minggu (2/12). Selain sesi konferensi, acara juga diisi dengan bedah film Sang Pencerah oleh Prof Dr Abdul Munir Mulkan.

Din menuturkan Muhammadiyah di Jawa Timur berbeda dengan gerakan di daerah lainnya karena lebih dinamis. Amal usaha, lembaga dan perguruan tinggi di Jawa Timur tumbuh sangat baik. “Lewat acara IRCM ini akan sangat membantu dalam mencermati isu-isu, termasuk multikultural ditubuh Muhammadiyah,” tuturnya.

Sebaliknya, kata Din, lewat IRCM ini pula Muhammadiyah bisa mengamati dinamika eksternal yang terjadi agar Muhammadiyah tetap menjadi gerakan Islam moderat dan bukan Islam radikal.

Dalam sambutannya, rektor UMM Dr. Muhadjir Effendy, MAP, memaparkan awal ide konferensi ini. Pihaknya menangkap gagasan ini karena ingin memberi kontribusi berbasis riset untuk Muhammadiyah. “Kami mengucapkan terima kasih dipercaya sebagai penyelenggara acara ini,” ungkapnya.

Pemaparan Syafii Maarif mengangkat The Muhammadiyah and The Roots of Indonesian Nationalism, Democracy, and Civil Society.  Sedangkan Prof Mitsuo Nakamura dari Universitas Chiba Jepang yang menggagas awalacara ini merangkum paper-paper yang masuk di konferensi. Menurutnya, inilah saatnya Muhammadiyah menemukan identitas barunya memasuki abad ke-2 usianya ini. “Forum ini nantinya membahas identitas, arah dan gerak Muhammadiyah memasuki abad ke-2 mendatang,” kata Nakamura
Shared:
Shared:
1