Peran Ormas Islam Banyak yang Belum Disinggung

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Rabu, 28 Oktober 2020 13:46 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA-- Berikan masukan kepada buku yang diluncurkan oleh The Centre for Strategic and International Studies (CSIS) “Indonesia dan COVID-19: Pandangan Multi Aspek”, wakil Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Rahmawati Husein menyebut, pembahasan tentang peran organisasi sosial keagamaan masih kurang.

Terkait dengan civic engagement atau keterlibatan publik, Muhammadiyah sebagai organisasi sosial keagamaan memiliki resources untuk berperan dalam penanganan pandemi covid-19. Bahkan, menurut Ama, Muhammadiyah juga memiliki tim gugus tugas yang diberi nama Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC).

“Memotret Civic engagement, Muhammadiyah sendiri termasuk di MDMC tidak bekerja sendiri,” ucap Rahmawati dalam acara Peluncuran Buku: Indonesia dan COVID-19: Pandangan Multi Aspek dan Sektoral yang diselenggarakan oleh CSIS secara webinar pada Selasa (27/10).

“Di Muhammadiyah sampai oktober ini saja sudah mengeluarkan lebih dari Rp. 300 M sampai Rp. 312 M, itu di luar Rumah Sakit. Itu yang dikeluarkan oleh Perguruan Tinggi Muhammadiyah, kemudian yang didapatkan dari Lazismu, sumbangan perorangan, sumbangan enatura,” imbuhnya.

Kepada buku yang diluncrukan oleh CSIS, Rahmawati menyarankan supaya memperbanyak pembahasan yang dilakukan pada aspek sosial kegamaan. Menurutnya, peran besar yang dilakukan oleh organisasi sosial keagamaan Muhammadiyah dalam penanganan pandemi sekarang ini sangat signifikan.

Di Muhammadiyah terkait dengan penanganan pandemi covid-19 bukan hanya semata berperan dalam urusan dana, melainkan yang tidak kalah penting adalah terkait dengan kebijakan. Kebijakan yang diterapkan oleh Muhammadiyah begitu luas menyasar semua bidang Amal Usahanya, yang bertujuan untuk menyelamatkan jiwa manusia.

“Jadi isu-isu tentang dukungan itu menjadi sangat penting, hubungan antara pemerintah dengan civil society dalam hal ini organisasi itu bisa menjadi cerita-cerita menarik, karena tiap daerah itu berbeda-beda,” urainya.

Sampai sejauh ini Muhammadiyah dan ‘Asiyiyah telah ikut berperan serta dalam penanganan pandemi covid-19, dan sebanyak 80 Rumah Sakitnya ikut dihadirkan sebagai solusi untuk masalah pandemi. Meskipun meliputi banyak aspek, masalah pandemi tegas Ama, sebagai leading sectornya adalah bidang kesehatan.

Selain itu, yang bisa dilakukan oleh organisasi sosial adalah terkait dengan tindakan prefentif dan promotif. Tindakan ini bisa melibatkan resources yang dimiliki oleh organisasi terkait, artinya semua pihak bisa ikut berpartisipasi dalam penanganan wabah pandemi covid-19 sesuai dengan kemampuan masing-masing.

“Dukungan pendanaan juga harus disinggung di buku, padahal pendanaan itu menjadi persoalan yang serius. Misalnya ada di bagian ekonomi dan tenaga kerja, tetapi pendanaan untuk penanganan bencana-dampak bencana itu cukup besar,” tegas Rahmawati.

Dosen Universitas Muhammadiayah Yogyakarta ini memberikan catatan, bagi buku kedua yang jika akan diluncurkan lagi oleh CSIS untuk ditambahkan pembahasan mengenai strategi kerjasama dengan asing, pelibatan masyarakat, dan strategi multipihak. Ama berasalan, karena peran multipihak itu dilakukan dengan komplit.

“Tidak hanya strategi dalam arti kebijakan, tetapi strategi sebagai praktik baik.Best practice and lesson learn dari yang dilakukan oleh multipihak ini penting, karena bisa dijadikan masukan bagi pemerintah kedepannya kalau ada pandemi yang serupa,” jelas Rahmawati.

Ia berharap, upaya yang antisipatif, inovatif, dan inisiatif perlu dikembangkan dalam strategi kebijakan untuk mengurangi pandemi dan masalah serupa yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. (a'n)

Shared:
Shared:
1