Kemesraan Iman dan Sains bagi Muhammadiyah

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 26 Oktober 2020 13:39 WIB

Oleh: Ilham Ibrahim

Kita harus mengakui bahwa tidak semua umat Islam mampu patuh pada protokol kesehatan. Sebagian di antaranya dengan berbagai alasan, terpaksa atau secara sadar, tidak lagi menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Kita tahu ada beberapa Masjid yang tidak pernah tutup sejak Maret kemarin. Kita terima atau tidak, masa penyebaran Covid-19 belum berlalu. Kondisi hanya akan semakin tidak terkendali. Jumlah peningkatan kasus kematian tidak pernah landai. Barangkali sikap antiprotokol kesehatan dianggap sebagai “heroisme” tanpa takut dan nekat melawan virus. Tapi konsekuensi terburuknya adalah posisi agama yang terancam dituduh sebagai dalang di balik sikap antiprotokol kesehatan. Padahal tidak semua kaum beragama bertindak gegabah tanpa kesadaran reflektif atas bencana. Kemunculan jargon “jangan takut Corona, takutlah kepada Allah” bertentangan dengan maksud “agama” sebagai pengetahuan tentang “keselamatan di dunia dan akhirat.”

Tidak sedikit sekarang orang menuduh pemuka agama dan agama itu sendiri tidak berkontribusi positif pada motifasi kesehatan manusia modern. Tuduhan itu jelas keliru. Tapi asumsi kelompok ini juga tidak bisa dibilang naif, karena berangkat dari kasus sebagian orang beragama yang terus memaksa diri untuk melakukan aktivitas keagamaan yang melibatkan sejumlah massa di tengah pandemi Covid-19. Ketika dalih teologis dan sains menganjurkan agar menjaga jarak demi mengurangi percepatan penyebaran virus, sebagian orang beragama justru mengabaikan anjuran tersebut. Tak pelak lagi, agama kini bisa dituduh anti perspektif keselamatan, dan antisains.

Penilaian di atas sejauh ini benar karena memang ada orang-orang fatalis akibat paham keagamaan. Akan tetapi salah total apabila menjadikan mereka sebagai representasi paling sempurna dari sikap keagamaan. Mereka yang tetap beribadah tanpa mengindahkan protokol kesehatan sama sekali tidak mewakili paham keislaman yang tepat. Sikap fatalistik yang ditunjukkan sebagian umat muslim ini pernah dikenal dalam corak kalam yang disebut Jabariyah.

Apakah ada kelompok beragama yang berhasil memperkenalkan respon teologis sembari apresiatif terhadap sains? Jawabannya ada! Bila kita menyimak penjelasan Muhammadiyah tentang ibadah di masa pandemi yang bersumber al-Qur’an dan al-Sunnah, akan nampak jelas bahwa Islam tidak mendukung paham fatalisme dalam menghadapi bencana ini. Muhammadiyah mengutip QS. Al Baqarah ayat 195 yang menunjukkan larangan keras kepada umat Islam untuk menjatuhkan diri pada kebinasaan. Bahkan lebih spesifik ada beberapa Hadis yang dikutip Muhammadiyah dan menunjukkan bahwa social distancing dengan orang sakit merupakan Sunah Nabi (HR. Muslim).

Apa yang telah difatwakan Muhammadiyah ternyata sejalan dengan pandangan ulama-ulama klasik ketika menghadapi wabah. Para ulama itu tidak hanya mengingatkan umatnya bahwa bencana sebagai ujian Allah, melainkan juga merancang mitigasi bencana dan menyusun protokol kesehatan. Karenanya, boleh dikatakan munculnya paham fatalis dalam tubuh umat Islam bukan karena mereka telah mendalami agama tetapi lantaran mereka telah keliru memahami Islam dan terputus dengan khazanah para ulama terdahulu.

Dengan demikian, fatwa keagamaan yang disampaikan Muhammadiyah setidaknya menganulir anggapan bahwa kedatangan Corona menjadikan orang beriman antisains, dan sekaligus menolak paham fatalisme sebagai bagian dari ajaran Islam. Akan tetapi timbul pertanyaan baru: jika Islam tidak antisains dan menolak paham fatalisme, apa peran dan solusi yang ditawarkan agama di tengah pandemi?

Pertanyaan di atas muncul dari sebagian orang yang menganggap bahwa agama tidak bisa berbuat apa-apa di tengah pandemi, selain menjadi modus komunikasi agar orang-orang tetap berdiam diri di rumah dan menjaga jarak. Sementara para saintis dan dokter berjibaku membuat obat Corona, para ulama hanya bisa membuat fatwa tanpa mampu membuat vaksin. Pandangan ini boleh jadi berangkat dari sentimen kuno agama versus sains yang sangat khas Barat.

Sebagai pandangan hidup, peran agama memang ada pada pembentukan sikap, bukan di persoalan sepraktis menemukan vaksin (Ayub, 2020). Dengan logika yang sama, tidak ada satupun sistem pandangan hidup yang berguna dalam mencari komposisi obat corona. Begitu juga dengan agama, sistem ateisme sekalipun tidak akan mampu meracik setiap detail penciptaan vaksin. Vaksin hanya bisa ditemukan di lab-lab laboratorium melalui teori-teori saintifik. Kepicikan mereka sering menganggap bahwa sains hanya milik ateisme (dan juga sekularisme). sehingga capain sains sering diterjemahkan sebagai keberhasilan kedua paham tersebut. 

Ateisme mungkin mampu memovitasi para saintis untuk menciptakan vaksin dengan modus humanisme. Tetapi agama juga berperan untuk mendorong para dokter agar jangan lengah di garis depan melalui kekuatan iman. Dalam fatwa yang disusun Muhammadiyah, misalnya, para dokter yang sedang bertugas di lapangan sesungguhnya tengah berjihad di jalan Allah sehingga kematiannya berstatus syahid.

Jadi, agama sesungguhnya berperan dalam pembentukan mental agar tetap kuat menghadapi virus, sementara sains mengerjakan sisa-sisa teknisnya di lapangan. Karenanya dalam kasus Corona ini samasekali tidak ada pertentangan dan ketegangan antara agama dan sains sebagaimana yang digambarkan orang-orang ateis (dan juga sekularis).

Lebih jauh, apa yang ditunjukkan Muhammadiyah sebagai organisasi keagamaan sungguh menakjubkan. Muhammadiyah menyiapkan puluhan Rumah Sakit sebagai arena pertarungan langsung antara virus dengan dokter. Pembentukan MCCC juga merupakan upaya Muhammadiyah untuk memberikan edukasi praktis kepada masyarakat bagaimana cara memutus rantai penyebaran virus ini. Tak lupa pula, fatwa keagamaan yang disusun Muhammadiyah juga berperan sebagai jawaban dari keresahan masyarakat bagaimana tatacara beribadah di tengah pandemi.

Apa yang telah dilakukan Muhammadiyah secara tidak langsung menggugat kepada mereka yang antipati pada agama ketika membicarakan agama dan covid-19. Para ulama, pengurus masjid, jamaah pengajian Muhammadiyah tidak akan pernah membantah anjuran dokter dengan ayat-ayat al-Quran karena memang anjurannya tak bertentangan dengan prinsip-prinsip ketauhidan. Ketika seorang dokter spesialis paru-paru mengatakan bahwa virus corona masuk melalui pernapasan, tak akan ada seorang ulama yang mengacungkan tangannya dan berteriak, “ini bertentangan dengan al-Quran dan al-Sunnah!”

Editor: Fauzan AS

Shared:
Shared:
1