Meski Kondisi Sulit, Manusia Tetap Mahluk Sosial yang Musti Berbagi

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 22 Oktober 2020 11:34 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, SIGI—Pandemi dirasakan oleh semua sektor matapencaharian, termasuk para petani bawang goreng damping Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah di Langaleso, Sigi, Sulawesi Tenggah.

Imam Muhsin, Ketua Kelompok Koperasi Luku Karya Mandiri saat dimintai keterangan menyebut, dampak adanya pandemic covid-19 adalah lesunya sektor pariwisata yang kemudian berdampak juga kepada daya beli produk yang dijajakan sebagai oleh-oleh. Termasuk produk bawang goreng yang mereka produksi juga menrasakan dampakanya.

“Panen ini kita akan jual timbang. Masalahnya menginggat saat ini untuk bawang goreng ini pasarnya setengah mati terkendala pandemic. Saat ini penyerapannya untuk tamu-tamu dinas saja,” ungkap Imam saat dimintai keterangan tim muhammadiyah.id pada (22/10).

Selain bawang goreng, tambah Imam, yang mengalami penurunan harga sangat tajam adalah tomat. Di Langaleso sendiri, selain menanam bawang kelompok Luku Karya Mandiri dampingan MPM PP Muhammadiyah, anggotanya juga ada yang menanam tomat. Saat ini harga tomat anjlok sampai pada harga Rp. 1.500/kg.

Namun untuk bawang selama seminggu terkahir ini, harganya kembali membaik ke anggka Rp. 25.000/Kg. Anjloknya harga hasil panen ini dirasakan sangat berat, karena petani bawang hanya bisa menjual bawang dalam bentuk mentahan, tidak bisa melakukan olahan lanjutan menjadi bawang goreng. Padahal olahan lanjutan ini adalah usaha petani bawang untuk menaikkan harga, dan mengakali supaya harga tidak jatuh terlalu jauh.

Meskipun demikian, ditengah situasi yang sulit seperti sekarang ini, semangat Al Ma’un tetap bergeloran dan tidak luntur dari jiwa para petani bawang dampingan MPM ini. Imam menceritakan, ditengah pandemic yang terjadi saat ini sebenarnya bukan hanya anggotanya saja yang mengalami kesulitan, melainkan semua masyarakat juga mengalami hal serupa.

Berbekal semangat al Ma’un dan berbagai, pada masa panen kali ini Imam Muhsin dan kelompok berinisiatif menggandeng masyarakat umum lokal dari luar anggota kelompok untuk bergabung dan mengupahi jasa mereka yang membantu tanam dan panen bawang. Menurutnya, disaat sesulit apapun manusia adalah mahluk sosial yang musti berbagi.

“Sekitar dari 20 orang kita gandeng dari penduduk lokal, dari semua yang mulai dari tanam sampai panen kita asli orang Kaili (suku asli yang mendiami daerah Sulawesi Tenggah).” Ucapnya

Saat ini, selain masalah pemasaran olahan produk lanjutan, persoalan lain yang dihadapi oleh petani bawang adalah mulai masuknya musim penghujan. Karena tanaman bawang bukan tanaman yang membutuhkan banyak air, sehingga jika terrendam air tanaman bawang akan rusak dan busuk.

“Luar biasa pokoknya hampir semua mengeluh, sektor pertanian terkendala harga juga. Kemarin ini berapa kali tanam untuk tomat dan sayur mayur masih kurang bersahabat ke petani untuk harga.” Pungkasnya. (aan)

Shared:
Shared:
1