Prof. Kim Hyun-jun: Watak Demokratis ‘Aisyiyah Harus Dibumikan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 20 Oktober 2020 11:11 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, Yogyakarta—Gerakan ‘Aisyiyah itu bukan hanya kata-kata, melainkan gerakan amal yang membuahkan hasil nyata. Menurut Prof. Kim Hyun-jun, ungkapan tersebut gamblang ditemukan dan menjadi asset gerakan perempuan Islam dari Organisasi Muhammadiyah ini.

Dalam pengamatan Professor Antropologi Kebudayaan Kangwon National University, Korea Selatan ini, yang menjadi aset gerakan ‘Aisyiyah adalah kreatifitas kader-kader beserta pimpinannya dalam membuat program atau amal usaha. Keunikan ini seperti bakat bawaan dari mereka, serta kemampuan menjalin komunikasi dan jaringan dengan semua pihak dan kalangan.

“Ketika mereka misalnya akan membuat sekolahan, mereka tidak memiliki modal dan tidak memiliki apapun. Tetapi pada suatu saat mereka bisa memulai amal usaha itu, keinginan mereka itu yang paling penting.” Ungkapnya.

Serta, yang perlu digarisbawahi menurut Prof. Kim adalah terkait metode atau cara ibu-ibu ‘Aisyiyah dalam mengelar diskusi dan menghasilkan mufakat. Yang dilakukan oleh ‘Aisyiyah menurutnya dilandasi oleh sikap keberanian dan kebijaksanaan. Sehingga dalam tindakan praksisnya-pragmatisnya, kader ‘Aisyiyah dapat melakukan gerakan secara otomatis dengan bekal yang dimiliki tersebut.

Asset selanjutnya dari organisasi ‘Aisyiyah menurut Prof. Kim adalah watak demokratis, watak ini sama dengan yang dimiliki oleh Muhammadiyah. Identitas tersebut bisa ditemukan pada management intern ‘Aisyiyah yang dipenuhi oleh watak demokrasi, seperti dalam kepemimpinan kolektif, musyawarah-mufakat, pemilihan pimpinan, dan menitikberatkan kesetaraan antara pimpinan dan kader.

“Secara alami kalau ibu-ibu mengikuti gerakan ‘Aisyiyah, maka secara alami akan mendapatkan watak demokratis.” Imbuhnya

Namun, dominasi kebudayaan ikhlas yang menjaadi asset ‘Aisyiyah disisi lain menjadi penyumbat akses eksternal yang ingin mentehaui ‘Aisyiyah lebih dalam. Dominasi kebudayaan ikhlas secara langsung berdampak pada keenganan memperlihatkan capaian ‘Aisyiyah kekhalayak umum.

“Kader-kader ‘Aisyiyah itu luar biasa, tapi menurut saya apa yang ‘Aisyiyah capai jarang dibicarakan diluar ‘Aisyiyah.”katanya

Menurutnya, kebudayaan ikhlas di ‘Aisyiyah terlalu kuat sehingga capaian-capaian besar tidak dipublikasi. Budaya ini menyebabkan terkuburnya proses dan pengorbanan besar yang dilakukan oleh ‘Aisyiyah dalam membuat amal usaha. Prof. Kim terkait budaya ikhlas di ‘Aisyiyah menyarankan supaya perlu dilakukan perubahan perspektif tentang konsep ikhlas.

Karena dalam mempublikasi hasil yang dicapai oleh organisasi disisi lain adalah sebuah ungkapan kebangaan. Temuan tersebut menurut Prof. Kim berbanding terbalik dengan sikap yang dimiliki oleh Organisasi Politik (Orpol), hal ini yang diperkirakan oleh Kim yang menyebabkan ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah enggan terjun keranah politik praktis.

“Namun menurut saya semua kader ‘Aisyiyah memiliki kualifikasi atau asset yang cukup untuk bergerak dibidang politik.” Ucapnya

Namun yang lebih penting menurut Kim adalah menularkan watak demokratis yang ada pada diri ‘Aisyiyah kepada pihak luar. Menurutnya, watak demokratis ‘Aisyiyah jika dibawah keluar akan berperan penting dalam proses demokratisasi masyarakat Indonesia. Dalam pandangannya, ‘Aisyiyah harus berani keluar dan menampilkan diri sesuai jati dirinya untuk memberikan perubahan positif bagi masyarakat Indonesia.

“’Aisyiyah harus lebih progresif untuk memperlihatkan apa yang ‘Aisyiyah sekarang atau dulu lakukan atau melaksanakan hasilnya apa untuk pada masyarakat umum.” Tutup Kim. (Aan)

Shared:
Shared:
1