Din: Perlu Tafsir Baru Al Ma’un

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 21 Mei 2011 23:49 WIB

Malang-Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Din Syamsuddin yang membuka Rakernas mengungkapkan perlunya penafsiran baru terhadap Al-Maun. "Konsep kata kunci Yatim yang ada dalam surat Al-Maun tidak lagi diartikan kehilangan orang tua, namun bisa dimaknai tuna wisma, tuna karya, maupun tuna susila. Miskin tidak sekadar miskin harta namun juga miskin budi, miskin ilmu. Inilah yang menjadi sasaran dakwah Muhammadiyah," jelasnya.

Demikian disampaikan Din Syamsuddin dalam sambutannya di Rapat kerja nasional (Rakernas) dan Dialog Kerakyatan yang diselenggarakan oleh Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Malang, Sabtu (21/5/2011)

Lebih lanjut, Din menambahkan perlunya sasaran yang lebih luas tidak hanya perkuat landasan budaya, namun juga sebagai tanggap darurat untuk menanggulangi permasalahan di era modern saat ini, dimana permasalahan tersebut memiliki dampak sosial yang berpotensi tidak hanya menjadi pemyakit sosial, namun menjadi permasalahan sosial. Oleh karenanya, Din menyebut Muhammadiyah sebagai gerakan pencerahan yang memiliki etos menolong kesengsaraan umum dan menebar manfaat dan berguna bagi umat.

Dalam dimensinya, MPM menjadi pembebas, tidak hanya pada dakwah keyakinan, namun juga pembebas kemanusiaan, kemiskinan, keterbelangkan, dan kebodohan. "MPM juga berdimensi sebagai pemberdayaan yang kemudian memajukan masyarakat," tandas Din.

Acara ini diikuti kurang lebih 150 peserta dari MPM PWM se-Indonesia, LPM PTM, perwakilan dari Fakultas Pertanian, Peternakan, dan Perikanan PTM, dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah se-Malang Raya.

Shared:
Shared:
1