RSU PKU Muhammadiyah Banjarnegara Ajak Bidan Desa Menjadi Motivator ASI

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 28 September 2020 13:27 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANJARNEGARA – Setiap bayi baru lahir yang berumur 0-6 bulan tentu berhak mendapatkan Air Susu dari Sang Ibu. Tentu saja hal ini merupakan wujud kasih sayang pertama seorang ibu pasca melahirkan buah hatinya.

Namun rupanya angka pemberian ASI eksklusif di Indonesia masih tergolong rendah. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan 2017 mencatat, pemberian ASI ekslusif di Indonesia hanya 35%. Angka tersebut masih jauh dibawah rekomendasi WHO (World Health Organization) yakni 50%.

Salah satu sejumlah faktor yang mempengaruhi rendahnya ASI ekslusif di Indonesia adalah kurangnya dukungan orang sekitar bagi Ibu menyusui. Baik dari keluarga ataupun tempat kerja.

Pada Sabtu (26/9), Rumah Sakit Umum PKU Muhammadiyah Banjarnegara (RSMB), telah menggelar Kelas Ibu Remaja dan Anak (KIRANA) dengan tema pelatihan laktasi untuk bidan desa. Tercatat 30 bidan desa yang berasal dari wilayah kecamatan Purwonegoro dan Mandiraja hadir di dalam pelatihan tersebut.           

Bertempat di Aula RSMB, para bidan desa tersebut mendapatkan edukasi tentang bagaimana cara memijat payudara, dan teknik Inisiasi Menyusui Mandiri (IMD), oleh dr. Luri Aulianti.

Dalam kesempatan tersebut, dr Luri memaparkan kepada para dukun bayi bahwasanya, ASI merupakan nutrisi yang paling sesuai dengan bayi umur 0-6 bulan. “Problem di masyarakat adalah ketidakpercayaan diri Ibu untuk menyusui. Padahal pemerintah telah menghimbau agar para Ibu setidaknya memberikan ASI ekslusif setidaknya selama 6 bulan penuh,” kata dr. Luri.

Dalam kesempatan tersebut, para bidan desa juga diajak untuk menjadi motivator ASI bagi masyarakat, sehingga ketika bidan desa berkunjung ke rumah klien, diharapkan mereka juga memberikan edukasi dan dukungan sosial terhadap klien dan keluarganya untuk memberikan ASI ekslusif selama 6 bulan.

Humas RSMB Syarafi Al Ghifari berharap, agar acara ini bisa menambah pengetahuan ibu dan bayi kepada masyarakat. Sehingga diharapkan para bidan desa tersebut bisa menjadi motivator tentang pentingnya ASI eksklusif khususnya pada masyarakat yang tinggal di pedesaan.

“Kegiatan ini juga merupakan bentuk kepedulian RSMB kepada peran bidan desa, karena pada zaman sekarang, bidan desa sudah mulai ditinggalkan. Padahal bidan desa adalah orang pertama yang dimintai pertolongan yang berkaitan dengan kesehatan Ibu dan Bayi oleh masyarakat khususnya di pedesaan,” tukas Syarafi. (syifa)

Sumber : Fitran

 

Shared:
Shared:
1