Peran Mubaligh Muhammadiyah Memberikan Pencerahan di Tengah Bencana

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 27 September 2020 11:05 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA — Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah, Budi Setiawan, mengatakan, seorang mubaligh terlebih mubaligh muda Muhammadiyah harus mampu memberikan pencerahan. Terlebih dakwah ditengah bencana, membutuhkan kejelian untuk melihat konteks yang sedang dialami masyarakat.

“Berdakwah kepada penyitas, Mubaligh harus memberikan sesuatu yang sesungguhnya mereka butuhkan,” ungkapnya dalam acara Silaturahmi Nasional Mubaligh Muda Muhammadiyah yang diselenggarakan Majelis Tabligh PP Muhammadiyah pada Sabtu (26/9).

Menurutnya dakwah ditengah penyitas bencana dilakukan dengan cara yang mengembirakan dan mencerahkan, bukan sebaliknya menghukumi mereka dengan dalil-dalil yang menunjukkan kemurkaan Allah atas perilaku mereka. Maka penting untuk melakukan diversifikasi dalam memberikan kebutuhan melalui berbagai jalan.

Dalam konteks masyarakat Indonesia, di mana semua daerahnya memiliki kerentanan terhadap terjadinya bencana, maka bagi para mubaligh juga harus dibekali pengetahuan tentang penanggulangan bencana. Sehingga mubaligh juga bisa berperan sebagai penyambung informasi mengenai skeman tanggap darurat, dan juga agen penumbuh harapan.

“Karena agama pada intinya adalah harus mampu memberikan pencerahan dan mensejahterakan masyarakat,” katanya.

Peran mubaligh ketika terjadi bencana adalah menjaga asa para penyitas, jangan sampai harapan mereka terhadap nikmat, karuni dan kasih sayang Allah menjadi putus atau hilang. Hal ini juga secara tidak langsung untuk menjaga kadar keimanan penyitas. Penerjunan mubaligh ke lokasi bencana disisi lain juga bisa memerankan peran sebagai penjaga relawan supaya tetap taat dalam menjalankan ibadah.

Menurut Budi, mubaligh adalah agen untuk memperbaiki persepsi masyarakat terhadap bencana yang menimpa mereka. Karena pada nyatanya, realitas dilapangan menunjukkan masih banyak masyarakat yang salah dalam mempersepsi akan penyebab terjadinya suatu bencana.

Persepsi ataupun cara pandang masyarakat terlebih kaum muslim terhadap  terjadinya bencana akan menentukan bentuk respon atau tindakan yang dilakukan. Cara pandang yang keliru akan berakibat respon yang dilakukan juga keliru, sehingga bisa menimbulkan bencana ganda. Misalnya jika bencana dipersepsi sebagai hukuman Allah atas perilaku manusia, maka penyitas akan mengalami derita ganda, terlebih derita psikologis.

Saat ini dengan kemajuan teknologi, lembaga bencana seperti MDMC dan lain-lain sudah bisa memetakan mana-mana saja daerah yang memiliki kerawanan untuk terjadi bencana. Namun, persoalannya adalah lembaga-lembaga penangulangan bencana tersebut belum bisa menentukan waktu terjadinya bencana. Sehingga keberadaan mubaligh muda Muhammadiyah penting untuk mengedukasi masyarakat supaya sadar dan memiliki pengetahuan terhadap bencana yang seaktu-waktu datang menimpa mereka.

“Sehingga jangan sampai kita menyalahi arti dari bencana itu sendiri, seakan-akan Allah sedang marah. Serta melakukan edukasi yang rasional bagaimana cara yang benar dalam mencegah dan menangulangi bencana. Bukan dengan sesaji lagi,” ungkapnya.

Dalam menyikapi bencana harus dilakukan secara etis, di mana bencana yang terjadi adalah suatu kenyataan dan harus disikapi dengan kesadaran utuh dari pihak-pihak yang terkait dengan bencana, meliputi individu, keluarga, masyarakat dan pemerintah. Kesadaran ini sebagai jalan untuk menerapkan konsep ta’aruf (kerjasama) dan ta’awun (tolong-menolong). (a’n)

Shared:
Shared:
1